• 0741-5911449
  • info@setarajambi.org
  • Mayang, Komplek Kehutanan, Jambi

Agroekologi Demi Keberlanjutan Negeri

Petani dari Muaro Jambi dan Bengkulu Utara yang sedang belajar langsung di klinik tanaman milik Sanggar Kebangsaan di Kabupaten Klaten. (foto: Rizky Fahrurozi/Yayasan Setara Jambi).

Oleh: Zulfa Amira Zaed

Agroekologi yang menerapkan prinsip pertanian ramah lingkungan untuk keberlanjutan dapat menjadi solusi di tengah krisis iklim yang melanda banyak daerah di Indonesia, khususnya Sumatera.

Dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan yang dimulai dari menjaga kesehatan dan unsur hara dalam tanah, tanaman dapat tumbuh secara optimal. Perlakuan dalam pemeliharaan tanaman juga tidak kalah penting, seperti proses pemupukan menggunakan pupuk organik.

Rabu (10/12), sebanyak 25 petani pangan dari Kabupaten Muaro Jambi dan bengkulu Utara mengunjungi secara langsung Sanggar Kebangsaan, dampingan Yayasan Bina Desa di kabupaten Klaten. Dalam kesempatan tersebut, seluruh peserta dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan pupuk organik cair, mengunjungi klinik tanaman untuk melihat kandungan gizi dalam tanah dan kandungan pupuk organik, serta mengunjungi sawah di Desa Perawatan Kabupaten Klaten yang dikelola dengan cara organik.

Made Putra, seorang petani pangan dari Kabupaten Bengkulu Utara sepakat dengan pola pertanian organik di Desa Perawatan.

“Kami melihat secara langsung pertanian di sini yang sepenuhnya dikelola secara organik. Bahkan sudah mendapatkan sertifikasi. Hal ini membuat kami optimis, dapat menerapkan pertanian organik sepenuhnya di Bengkulu Utara,” kata Made Putra.

Pertanian agroekologi, mengutip Serikat Petani Indonesia (SPI), konsep agroekologi ini dimaknai sebagai suatu cara bertani yang mengintegrasikan secara komprehensif aspek lingkungan hingga sosial ekonomi masyarakat pertanian.

Suatu mekanisme bertani yang dapat memenuhi kriteria keuntungan ekonomi, keuntungan sosial bagi keluarga tani dan masyarakat, serta konservasi lingkungan secara berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memutus ketergantungan petani terhadap input eksternal dan penguasa pasar yang mendominasi sumber daya agraria. Pelaksanaan pertanian agroekologi bersumber dari tradisi pertanian keluarga yang menghargai, menjamin dan melindungi keberlanjutan alam untuk mewujudkan kembali budaya pertanian sebagai kehidupan.

Jika pertanian agroekologi diterapkan, maka swasembada pangan bukanlah hal yang mustahil, petani bukan hanya mampu memcukupu kebutuhan banhan pangan tetapi juga ketahanan pangan di sebuah negara.

Dalam keadaan perang sekalipun, pangan menjadi kunci untuk bertahan hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *