• 0741-5911449
  • info@setarajambi.org
  • Mayang, Komplek Kehutanan, Jambi

Semoga Suatu Bangsa Menaruh Nilai Pada Pangan Rakyatnya Setinggi Ia Memuliakan Kuasa

Oleh: Titania Aura

Sumber foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia

Untuk membangun sebuah generasi, rupanya tidak cukup hanya dengan niat baik. Hal itu adalah konstruksi besar yang disusun dari angka, dari keputusan yang dipertaruhkan, dan dari keberanian untuk tetap terlihat mampu di tengah keterbatasan.

Negara datang membawa janji, Lalu menamainya dengan sesuatu yang terdengar mulia:

Makan Bergizi Gratis.

Sebuah gagasan yang tidak lagi sekadar tentang kenyang, Melainkan tentang bagaimana masa depan diproduksi secara sistematis melalui sepiring nasi Yang dibebani harapan terlalu besar.

Namun di balik itu, Angka mulai membuka dirinya sendiri:

Rp80 miliar per hari.

Memberi makan jutaan orang bukan sekadar tindakan sosial ia adalah keputusan fiskal yang memaksa negara untuk memilih apa yang harus dipertahankan, dan apa yang harus dikorbankan. Dalam ruang itu, Anggaran tidak lagi netral. Ia menjadi arena.

Negara menyebutnya investasi menuju Generasi Emas 2045. Namun setiap investasi selalu menyimpan risiko yang jarang dibicarakan. Karena ketika angka terus membengkak, pertanyaan sederhana mulai muncul:

Apakah ini keberanian, atau keyakinan yang dipaksakan? Lalu kita dipertemukan.

Dengan satu angka kecil Untuk mimpi sebesar ini: Rp10.000. Sepuluh ribu rupiah. Untuk satu porsi masa depan. Di atas kertas, semuanya ideal. Namun realitas tidak selalu tunduk Pada perhitungan. Dan di titik itu, kita mulai bertanya:

Apakah ini tentang nutrisi, Atau sekadar memastikan sesuatu tetap ada?

Program ini tidak hanya tentang makan. Ia menggerakkan ekonomi, membuka ruang kerja, dan memberi alasan sederhana bagi seorang anak untuk tetap datang ke sekolah. Bukan karena mimpi, melainkan karena makan siang. Dan terkadang, itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan.

Namun Indonesia tidak hanya kota. Di tempat yang jauh dari pusat, Akses menjadi persoalan utama. Makanan bukan lagi soal gizi, Melainkan soal kemungkinan:

Untuk sampai, Untuk benar-benar dirasakan.

Pada akhirnya, semua kembali pada satu hal: KETEPATAN.

Tidak semua harus menerima. Dan tidak semua perlu disamaratakan. Karena memberi kepada semua orang tidak selalu berarti adil.

Dan di antara semua janji ini, Kita hanya ingin memastikan satu hal:

Apakah ini benar-benar solusi, Atau sekadar cara paling meyakinkan untuk terlihat peduli?

*Tulisan ini merupakan opini yang ditulis oleh Titania Aura Islamaia, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas UIN Sultan Thaha Jambi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *