Pertanian di Muaro Jambi Terdampak El Nino
Penulis: Rizky Farurozy
Editor: Amira

Sawah tadah hujan yang kering akibat El Nino di Kabupaten Muaro Jambi. (foto: Rizky Farurozy)
aaa
Fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Provinsi Jambi, khususnya di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh petani di Desa Tunas Mudo dan Desa Pematang Pulai.
aaa
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan periode 2026–2027 di sebagian wilayah Sumatera diperkirakan baru akan dimulai pada November 2026. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang periode kekeringan yang saat ini dirasakan oleh petani.
aaa
Pada musim tanam tahun ini, petani di Desa Tunas Mudo dan Desa Pematang Pulai menghadapi kondisi sawah yang mengalami kekeringan. Minimnya curah hujan menyebabkan sebagian lahan pertanian mengalami kekurangan air, bahkan tanah di sejumlah area persawahan mulai mengalami keretakan.
aaa
Di Desa Pematang Pulai, jumlah petani yang menanam padi pada musim tanam kali ini mengalami penurunan. Muhadi, salah seorang petani setempat, mengatakan bahwa hanya sekitar 20 persen petani yang tetap menanam padi akibat kondisi cuaca yang sangat panas dan minimnya curah hujan.
aaa
“Tahun ini petani yang menanam padi hanya 20 persen. Cuaca yang sangat panas dan tidak ada hujan mengakibatkan sawah kering,” ujar Muhadi.
aaa
Kekeringan juga berdampak terhadap produktivitas padi yang ditanam di lahan yang lokasinya jauh dari sumber air. Salah seorang petani, Lily Suryani, mengatakan hasil panen padinya tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
aaa
“Hasil padi tahun ini sangat tidak maksimal. Biasanya sawah saya bisa menghasilkan sebanyak 30–40 karung gabah, tetapi tahun ini hanya mendapatkan 15 karung,” tutur Lili Suryani.
aaa
Dampak musim kemarau berkepanjangan tidak hanya dirasakan oleh petani padi di Desa Pematang Pulai. Petani di Desa Tunas Mudo juga mengalami penurunan produksi, bahkan sebagian di antaranya mengalami gagal panen.
a
Samsir, salah seorang petani di Desa Tunas Mudo, mengatakan bahwa tanaman padi yang ditanamnya pada musim ini mengalami gagal panen akibat kondisi cuaca dan kekeringan.
aaa
“Tahun ini merupakan mimpi buruk bagi saya. Padi yang saya tanam tahun ini gagal panen,” ujar Samsir.
aaa
Dampak kekeringan juga dirasakan oleh petani hortikultura di Desa Tunas Mudo. Tanaman timun dan pare mengalami masa panen yang lebih singkat dibandingkan kondisi normal. Ermawati, salah seorang petani hortikultura, mengatakan bahwa petani rata-rata hanya dapat melakukan panen selama sekitar dua minggu.
aaa
“Durasi panen timun dan pare tahun ini tidak lama. Rata-rata petani hanya dapat panen sekitar dua minggu. Akibatnya, kami para petani mengalami kerugian. Jangankan mendapatkan keuntungan, untuk balik modal saja tidak,” ujar Ermawati. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau berkepanjangan tidak hanya memengaruhi ketersediaan air untuk lahan pertanian, tetapi juga berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan petani. Jika kondisi kekeringan terus berlangsung hingga musim hujan tiba, petani di wilayah terdampak berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menentukan waktu tanam dan mempertahankan produksi pertanian.*