Semoga Suatu Bangsa Menaruh Nilai Pada Pangan Rakyatnya Setinggi Ia Memuliakan Kuasa
Oleh: Titania Aura

Sumber foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia
aaa
Untuk membangun sebuah generasi, rupanya tidak cukup hanya dengan niat baik. Hal itu adalah konstruksi besar yang disusun dari angka, dari keputusan yang dipertaruhkan, dan dari keberanian untuk tetap terlihat mampu di tengah keterbatasan.
aaa
Negara datang membawa janji, Lalu menamainya dengan sesuatu yang terdengar mulia:
Makan Bergizi Gratis.
aaa
Sebuah gagasan yang tidak lagi sekadar tentang kenyang, Melainkan tentang bagaimana masa depan diproduksi secara sistematis melalui sepiring nasi Yang dibebani harapan terlalu besar.
aaa
Namun di balik itu, Angka mulai membuka dirinya sendiri:
Rp80 miliar per hari.
aaa
Memberi makan jutaan orang bukan sekadar tindakan sosial ia adalah keputusan fiskal yang memaksa negara untuk memilih apa yang harus dipertahankan, dan apa yang harus dikorbankan. Dalam ruang itu, Anggaran tidak lagi netral. Ia menjadi arena.
aaa
Negara menyebutnya investasi menuju Generasi Emas 2045. Namun setiap investasi selalu menyimpan risiko yang jarang dibicarakan. Karena ketika angka terus membengkak, pertanyaan sederhana mulai muncul:
aaa
Apakah ini keberanian, atau keyakinan yang dipaksakan? Lalu kita dipertemukan.
aaa
Dengan satu angka kecil Untuk mimpi sebesar ini: Rp10.000. Sepuluh ribu rupiah. Untuk satu porsi masa depan. Di atas kertas, semuanya ideal. Namun realitas tidak selalu tunduk Pada perhitungan. Dan di titik itu, kita mulai bertanya:
aaa
Apakah ini tentang nutrisi, Atau sekadar memastikan sesuatu tetap ada?
aaa
Program ini tidak hanya tentang makan. Ia menggerakkan ekonomi, membuka ruang kerja, dan memberi alasan sederhana bagi seorang anak untuk tetap datang ke sekolah. Bukan karena mimpi, melainkan karena makan siang. Dan terkadang, itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan.
aaa
Namun Indonesia tidak hanya kota. Di tempat yang jauh dari pusat, Akses menjadi persoalan utama. Makanan bukan lagi soal gizi, Melainkan soal kemungkinan:
aaa
Untuk sampai, Untuk benar-benar dirasakan.
aaa
Pada akhirnya, semua kembali pada satu hal: KETEPATAN.
AAA
Tidak semua harus menerima. Dan tidak semua perlu disamaratakan. Karena memberi kepada semua orang tidak selalu berarti adil.
aaa
Dan di antara semua janji ini, Kita hanya ingin memastikan satu hal:
Apakah ini benar-benar solusi, Atau sekadar cara paling meyakinkan untuk terlihat peduli?
aaa
*Tulisan ini merupakan opini yang ditulis oleh Titania Aura Islamaia, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas UIN Sultan Thaha Jambi.