{"id":2585,"date":"2023-06-27T09:33:13","date_gmt":"2023-06-27T09:33:13","guid":{"rendered":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/?p=2585"},"modified":"2023-07-14T09:28:13","modified_gmt":"2023-07-14T09:28:13","slug":"wags-bio-wild-asia-pupuk-organik-menjadi-substitusi-pupuk-anorganik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/2023\/06\/27\/wags-bio-wild-asia-pupuk-organik-menjadi-substitusi-pupuk-anorganik\/","title":{"rendered":"Wags Bio Wild Asia Pupuk Organik menjadi Substitusi Pupuk Anorganik"},"content":{"rendered":"\n<p>Penulis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Ali Suharjo<\/p>\n\n\n\n<p>Perkebunan kelapa sawit merupakan sektor pertanian yang sangat bergantung pada suplai pupuk. Kelapa sawit membutuhkan 9 Kg\/Pohon\/Tahun pupuk berbagai jenis agar dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal . Selain pupuk, sektor perkubunan kelapa sawit juga membutuhkan herbisida yang cukup banyak, yaitu 6 L\/Ha\/Tahun. Tingginya kebutuhan pupuk dan herbisida pada sektor perkebunan kelapa sawit sangat berdampak pada kondisi lingkungan dan\u00a0<em>cost<\/em>\u00a0produksi yang harus dikeluarkan oleh petani, terlebih harga pupuk kimia naik mencapai 150% dari tahun lalu. Sehingga dibutuhkan alternative untuk mengatasi permasalahan diatas.<\/p>\n\n\n\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"400\" height=\"267\" class=\"wp-image-2587\" style=\"width: 400px;\" src=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio1.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio1.jpg 640w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio1-300x200.jpg 300w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio1-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/p>\n\n\n\n<p>Pertanian regenerative atau&nbsp;<em>Renerative Agriculture&nbsp;<\/em>(RA) merupakan salah satu konsep perbaikan ekosistem kebun, meliputi perbaikan kesehatan tanah, tata kelola air, penggunaan pupuk organik serta perawatan kebun dengan cara manual dan mekanis. Pertanian regenerative diharapkan mampu menjadi solusi perbaikan lingkungan juga sebagai solusi untuk mengatasi mahalnya harga pupuk dan herbisida kimia, terutama pada sektor perkebunan kelapa sawit. Sehingga pupuk organik dan perawatan kebun secara mekanis dinilai dapat menjadi substitusi atau alternative atas permasalahan mahalnya pupuk dan herbisida kimia.<\/p>\n\n\n\n<p>Yayasan Setara Jambi yang didukung oleh\u00a0<em>Forum Nachhaltiges Palmol<\/em>\u00a0(FONAP)\u00a0bekerja sama dengan Program\u00a0<em>WAGS Bio, Wild Asia<\/em>\u00a0melaksanakan\u00a0<em>Workshop Regenerative Agriculture<\/em>\u00a0dan Tekhnik Pembuatan Pupuk Organik Bagi Pekebun Kelapa Sawit Swadaya, pada hari Rabu 21 September 2022. Pelatihan berlangsung di Desa Suban, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Rosyid. Pelatihan diikuti oleh 30 orang peserta, terdiri dari perwakilan trainer lokal Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS-MRM), pengurus Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML) dan perwakilan Kelompok Perempuan dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Sungai Penoban. Pelatihan tersebut dilatih oleh Tim WAGS BIO Wild Asia dari Malaysia, yaitu Ibu Hazmillah Sulaiman, Ibu Siti Zulaikah Dan Bapak Issac Barrock.<\/p>\n\n\n\n<p><img decoding=\"async\" width=\"400\" height=\"267\" class=\"wp-image-2586\" style=\"width: 400px;\" src=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio2.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio2.jpg 750w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio2-300x200.jpg 300w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/wags_bio2-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/p>\n\n\n\n<p>Pelatihan yang berlangsung satu hari tersebut terbagi menjadi beberapa sesi, yaitu sesi meteri dalam kelas dan demonstrasi serta praktek pembuatan Bio Jus (Evo Enzime).&nbsp; Materi mengenali kesuburan tanah, pembuatan pupuk organik dan pemulihan tanah langsung disampaikan oleh&nbsp;<em>Manager<\/em>&nbsp;Program Wags Bio \u2013 Wild Asia, yaitu Ibu Hazmillah. Dalam pemaparannya beliau menjelaskan pemulihan tanah harus menjadi konsen bagi petani. Tanah merupakan sumber awal dari optimalnya pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Selain materi di dalam kelas, peserta pelatihan juga diperkenalkan bagaimana cara membuat pupuk organik yang berasal dari bahan \u2013 bahan yang tidak terpakai atau yang dianggap menjadi sampah. Harapannya pupuk organik dapat menjadi substitusi disaat naiknya harga pupuk kima anorganik, \u201csumber bahan pupuk organik harus dari bahan yang didapat secara gratis sehingga manjadi solusi bukan malah menjadi beban bagi petani. Dan yang paling penting ini sangat bersahabat dengan lingkungan serta jauh dari kata pencemaran,\u201d ungkap&nbsp;<em>Cik Gu&nbsp;<\/em>Mila, sapaan akrab peserta pelatihan kepada Ibu Hazmillah.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain ilmu yang sangat bermanfaat peserta pelatihan juga mendapatkan buah tangan 1 botol Bio Jus atau Evo Enzim. Harapannya kedepan peserta pelatihan dapat membuat fermentasi dari bahan sisa rumah tangga dan mengamati proses terjadinya fermentasi di rumah mereka masing \u2013 masing. Serta menerapkan hasilnya di kebun mereka masing \u2013 masing. \u201dAlhamdullah dapat ilmu baru di sini (<em>Workshop Regenerative Agriculture<\/em>&nbsp;dan Tekhnik Pembuatan Pupuk Organik) selain itu kami dapat oleh \u2013 oleh bio jus hasil praktek kami tadi. Terima kasih kepada Setara Jambi yang telah memfasilitasi pelatihan ini dan juga Tim Wild Asia&nbsp;<em>Cik Gu&nbsp;<\/em>Mila (Ibu Hazmilla) dan teman \u2013 teman, jauh \u2013 jauh dari Malaysia untuk sharing ilmu dengan kami yang jauh dari kota ini,\u201d ungkap Firda Audani, Staff APBML yang ikut pelatihan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Workshop Regenerative Agriculture<\/em>&nbsp;dan Tekhnik Pembuatan Pupuk Organik, merupakan pelatihan lanjutan. Sebelumnya, dalam menjalankan&nbsp;strategi integrasi kelapa sawit berkelanjutan dengan pertanian regenerative, Yayasan Setara Jambi telah melaksanakan&nbsp;pelatihan:&nbsp;<em>Renerative Agriculture<\/em>, Model Pertanian Regenetative dan Manfaat Bagi Petani, Lingkungan dan Hasil Pertanian yang diikuti oleh 492 peserta.&nbsp;Pada kesempatan itu Yayasan Setara Jambi juga memberikan benih sayur \u2013 sayuran kepada Kelompok Perempuan dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Sungai Penoban. Sebagai bentuk dukungan Yayasan Setara Jambi kepada Kelompok Perempuan yang memanfaatkan pekarangan untuk bercocok tanam.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara Rido Iskandar selaku&nbsp;<em>Manager Sustainability Palm Oil<\/em>&nbsp;\u2013 Yayasan Setara Jambi mengungkapkan, \u201cPelatihan ini dapat melengkapi pelatihan sebelumnya tentang&nbsp;<em>regenerative agriculture<\/em>&nbsp;(RA) dan petani swadaya dapat membuat pupuk organik yang berasal dari bahan \u2013 bahan sisa yang ada disekitar mereka. Sehingga mereka dapat menekan&nbsp;<em>cost<\/em>&nbsp;produksi dari pembelian pupuk dan yang terpenting kedepannya petani dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia anorganik.\u201d tutupnya.<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Ali Suharjo Perkebunan kelapa sawit merupakan sektor pertanian yang sangat bergantung pada suplai pupuk. Kelapa sawit membutuhkan 9 Kg\/Pohon\/Tahun pupuk berbagai jenis agar dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal . Selain pupuk, sektor perkubunan kelapa sawit juga membutuhkan herbisida yang cukup banyak, yaitu 6 L\/Ha\/Tahun. Tingginya kebutuhan pupuk dan herbisida pada sektor perkebunan kelapa sawit sangat berdampak pada&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2588,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[14],"class_list":["post-2585","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pangan","tag-pangan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2585","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2585"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2585\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2585"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2585"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2585"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}