{"id":2500,"date":"2023-06-27T07:52:54","date_gmt":"2023-06-27T07:52:54","guid":{"rendered":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/?p=2500"},"modified":"2023-07-14T09:22:29","modified_gmt":"2023-07-14T09:22:29","slug":"substitusi-pupuk-organik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/2023\/06\/27\/substitusi-pupuk-organik\/","title":{"rendered":"Substitusi Pupuk Organik"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Solusi Atasi Mahalnya Pupuk Kimia dan Upaya Pemulihan Lingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Ali Suharjo<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mendis Jaya, SUMSEL \u2013<\/strong>\u00a0Kelapa sawit merupakan tanaman yang membutuhkan kecukupan unsur hara untuk dapat berproduksi secara maksimal. Secara alami unsur hara yang dibutuhkan tanaman sudah tersedia di dalam tanah, namun lambat laun ketersediaan unsur hara tersebut akan semakin menipis. Oleh karena itu dibutuhkan penambahan unsur hara melalui pemupukan, baik pupuk organik dan pupuk anorganik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"400\" height=\"226\" class=\"wp-image-2502\" style=\"width: 400px;\" src=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik.jpg 867w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik-300x169.jpg 300w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik-768x433.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti yang diketahu jika tanaman kelapa sawit membutuhkan pupuk sebanyak 5 \u2013 8 Kg\/Pohon\/tahun, menyesuaikan dengan umur tanamannya (PPKS, 2018). Namun, dewasa ini petani kelapa sawit kesulitan untuk melakukan pemupukan karena harga pupuk terlalu tinggi. Sejak Ferbruari 2022 mengalami kenaikan yang sangat drastis, pupuk yang semula berada dikisaran Rp. 320.000\/Karung menjadi Rp. 660.000\/Karung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kenaikan harga pupuk tersebut, juga dirasakan oleh petani anggota Perkumpulan Petani Mendis Jaya Sejatera (PPMJS). Hal tersebut disampaikan oleh Pak Suranto, \u201cuntuk harga pupuk naiknya itu mulai awal tahun 2022 kemarin. Bahkan kami nyebutnya itu bukan naik harga, tapi ganti harga. Dari semula itu Rp. 300.000 \/ Karung jadi Rp. 480.000 \/ karung diawal tahun 2022 kemarin. Kalau sekarang jenis pupuk majemuk NPK 13-8-27 itu diharga Rp. 540.000 \/ Karung\u201d keluhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><img decoding=\"async\" width=\"400\" height=\"559\" class=\"wp-image-2501\" style=\"width: 400px;\" src=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik2.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik2.jpg 651w, https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/subtitusi_pupuk_organik2-215x300.jpg 215w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mahalnya harga pupuk tentu akan menjadi permasalahan serius bagi petani kelapa sawit swadaya. Terlebih lagi harga penjualan tandan buah segar yang sangat fluktuatif sehingga menyebabkan petani keberatan untuk membeli pupuk.&nbsp; Imbasnya akan berpengaruh terhadap produksi kelapa sawit ditahun \u2013 tahun yang akan mendatang. Sehingga perlu ada terobosan dan inovasi untuk mengatasi permasalah diatas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut Pak Suranto menerangkan, \u201cSejauh ini, memang bergantung pada pupuk kimia untuk kelapa sawit kami. Sehingga dengan mahalnya harga pupuk, kami keberatan untuk melakukan pemupukan. Permasalahan ini kemarin kami diskusikan dengan Setara Jambi selaku lembaga pendamping kami. Dari hasil diskusi tersebut muncul beberapa strategi supaya kami tetap bisa melakukan pemupukan. Salah satunya substitusi pupuk kimia dengan pupuk organik.\u201d Ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rido Iskandar selaku&nbsp;<em>Sustainability Palm Oil Manager&nbsp;<\/em>Yayasan Setara Jambi mengungkapkan pentingnya penggunaan pupuk organik untuk substitusi pupuk kimia. \u201cYa, usaha pertanian saat ini masih tergantung pada pupuk kimia dan tak dapat kita pungkiri itu akan berdampak buruk pada tanah dan lingkungan dimasa yang akan datang. Saat ini kami berusaha mendorong petani kelapa sawit terutama petani dampingan kami untuk mulai mengurangi pupuk kimia dan menggunakan pupuk organik. Harapannya dengan substitusi tersebut, akan dapat mengembalikan kesehatan tanah dan perbaikan lingkungan di masa yang akan datang. Selain itu substitusi tersebut dapat menjadi alternatif tepat untuk mengatasi tingginnya harga pupuk kimia.\u201d ungkap pria satu anak tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Muhamad Khairul Staff Setara Jambi yang intens melakukan pendampingan di Desa Mendis Jaya menerangkan, jika saat ini anggota PPMJS mulai melakukan substitusi pupuk organi yaitu janjang kosong (jangkos) untuk mengurangi pupuk kimia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaat ini petani dampingan setara jambi dianjurkan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan disubstitusi dengan pupuk organik. Untuk saat ini kita pelan \u2013 pelan menawarkan solusi ini kepada petani dampingan kita, ada yang langsung mau dan ada juga yang masih ragu \u2013 ragu. Biasalah untuk merobah pola yang sudah menaun itu butuh waktu dan sosialisasi\u201d ungkap pria yang kerap dipanggil Bang Irul tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut Saudara Muhamad Khairul menjelaskan, pengurangan pupuk kimia harus dilakukan secara bertahap dan harus dilakukan dengan konsisten, \u201cuntuk pengurangan pupuk kimia harus bertahap, kalau langsung dikurangi 100 % akan berakibat devisit unsur hara yang ekstrim dan berdampak negative ke tanama kelapa sawit. Untuk tahun pertama pupuk kimia bisa dikurangi 10% dan disubstitusi dengan jangkos 250 Kg\/Pohon kalau lebih pun gak papa.\u201d Imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk mendukung strategi substitusi pupuk organik kepada anggota PPMJS, Setara Jambi sedang mendorong Kerjasama untuk mendapatkan jangkos dengan perusaah pengolah kelapa sawit terdekat. Selain itu Setara Jambi memberikan pinjaman modal usaha kepada PPMJS. Pinjaman tersubut digunakan oleh anggota&nbsp; PPMJS yang ingin melakukan substitusi pupuk kima dengan pupuk organik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solusi Atasi Mahalnya Pupuk Kimia dan Upaya Pemulihan Lingkungan Penulis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Ali Suharjo Mendis Jaya, SUMSEL \u2013\u00a0Kelapa sawit merupakan tanaman yang membutuhkan kecukupan unsur hara untuk dapat berproduksi secara maksimal. Secara alami unsur hara yang dibutuhkan tanaman sudah tersedia di dalam tanah, namun lambat laun ketersediaan unsur hara tersebut akan semakin menipis. Oleh karena itu dibutuhkan penambahan unsur hara melalui&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2503,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[13],"class_list":["post-2500","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sawit","tag-sawit"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2500"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2500\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2503"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/setarajambi.org\/setara\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}