Kunjungan tim FONAP dan Diskusi Bersama Masyarakat
Kunjungan tim FONAP dan Diskusi Bersama Masyarakat

Tentang Upaya Pemulihan Ekonomi dan Ekologi Melalui Pengelolaan Lubuk Larangan dan Pertanian Regeratif

Penulis: Ali Suharjo

 

Lubuk Lawas, Tanjung Jabung Barat – Sempadan sungai adalah ruang penyangga antara ekosistem daratan dan ekosistem sungai. Seyogyanya sempadan sungai memiliki tumbuhan yang heterogen, hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir terjadinya erosi dan pencemaran sungai. Namun pada kenyataannya sempadan sungai kian terancam oleh aktivitas manusia, sehingga harus ada suatu tindakan yang dapat meminimalisir eksploitasi sempadan sungai.


Salah satu rangkaian kegiatan kunjungan monitoring dan evaluasi Tim Forum Nachhaltiges Palmol (FONAP) adalah diskusi bersama masyarakat, pemerintahan desa dan pengurus Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML). Diskusi yang berlangsung di tepi Sungai Asam tersebut mengangkat tema tentang konservasi sungai sebagai upaya pemulihan ekonomi dan lingkungan. Kegiatan diskusi tersebut adalah bagian dari upaya meminimalisir eksploitasi sempadan sungai dan upaya perlindungan ekosistem sungai dengan metode kearifan lokal yaitu Lubuk Larangan. Pemerintah Desa Lubuk Lawas sangat antusias menyambut  upaya – upaya tersebut, hal tersebut dibuktikan dengan kesungguhan dalam penyambutan dan pelayanan yang diberikan kepada rombongan tamu yang berkunjung.

Guna memastikan upaya meminimalisir eksploitasi sempadan sungai dan lubuk larangan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, maka butuh kolaborasi berbagai pihak. Desa harus memiliki peraturan desa (Perdes) tentanga larangan pencemaran sungai, gerakan penanaman pohon disempadan sungai dan penaburan benih ikan di lubuk larangan. Selain beberapa hal diatas, yang tidak kalah penting untuk menjaga lubuk larangan yaitu peran serta kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai. Yayasan Setara Jambi kedepan akan menginisiasi deklarasi Kelompok Pengawas Sungai di lima desa untuk pengelolaan sungai secara bersam-sama.


Pada pertemuan yang diadakan di tepi Lubuk Larangan Sungai Asam, tiga orang tim FONAP yaitu Mr. Sascha Tischer, Mrs. Almut Feller dan Mrs. Karina Brenneis, berkesempatan menanam pohon, masing – masing menanam Pohon Petai, Pohon Matoa dan Pohon Durian. Selain itu Tim FONAP dan rombongan juga makan siang bersama, dengan menu tradisional yang dimasak oleh Ibu – Ibu PKK Desa Lubuk Lawas diantaranya, Sayur Nangka, Tumis Rebung, Tumis Pakis, Sambal Asam, Udang Gala dan lalapan-kolupun.

Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, perwakilan Kelompok Tani, Pemuda dan Kelompok Penggerak PKK antusias melakukan diskusi bersama. Kepala Desa Lubuk Lawas, Wiwin Ardiansyah menceritakan latar belakang diinisiasinya Lubuk Larangan karena prihatin terhadap sungai, kualitas air yang menurun, jumlah dan jenis-jenis ikan yang semakin semakin berkurang, kebun kelapa sawit yang mulai berjejer di sempadan sungai, beberapa problem tersebut menjadi pertimbangan utama Datuk Kades mengajak masyarakat untuk kembali melakukan kearifan lokal yang pernah ada pada masa lampau. Masyarakatpun menyambut ide tersebut dengan semangat, bergotong-royong membersihkan sungai, menanam pohon di sempadan sungai dan musyawarah membangun kesepakatan bersama tentang pengaturan pengelolaan Lubuk Larangan. “Kami bersepakat untuk mengatur batas Lubuk Larangan menetapkan bersama apa-apa saja larangan dan sangsi pengelolaan Lubuk Larangan, harapan kami, apa yang kami lakukan akan mencegah atau setidaknya mengurangi kerusakan ekosistem sungai”, ujar Kepala Desa Lubuk Lawas. Tim FONAP antusias dan menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat Desa Lubuk Lawas.

Selain mengunjungi Lubuk Larangan di Desa Lubuk Lawas, sebelumnya tim FONAP dan rombongan juga mengunjungi Pondok Pesantren Al-Rosyid di Desa Suban, yang juga menjadi salah satu demplot percontoh pertanian regenerative. Tim FONAP sangat terkesima mendengarkan penjelasan dari Ustadz Imran selaku pemilik kebun dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Rosyid, kebun miliknya sejak tahun 2018 hanya menggunakan Janjang Kosong (jangkos) sebagai pengganti pupuk kimia, pengendalian gulma juga dilakukan secara manual dan mekanis. Ustadz Imran menjadikan kebun miliknya sebagai media edukasi bagi santri sebagai bentuk pembangunan karakter kepedulian terhadap lingkungan dengan mengembangkan budidaya pertanian yang ramah lingkungan.

Mengakhiri rangkaian kegiatan kunjungannya di Jambi Tim FONAP dan rombongan berkunjung ke Kebun Demplot milik Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS-MRM), dengan penerapan pengendalian gulma secara mekanis, aplikasi pupuk jangan kosong (jangkos) , bio-urine dan pupuk kotoran hewan. Dalam kunjungannya ke kebun demplot milik FPS-MRM, Tim FONAP berdiskusi dengan Pengurus FPS-MRM dan Pak Ardiansah alias Bang Kulup selaku menejer demplot. Dalam kesempatan itu juga dilakukan demonstrasi aplikasi pupuk cair bio-urine oleh menejer dempot. Pak Suhaili mewakili FPS-MRM telah menyiapkan inovasi guna mendukung pertanian regenerative, diantaranya akan diadakan pelatihan dan pembuatan pupuk organik dari pelepah dan kotoran hewan. Sascha menyampaikan akan mendukung petani-petani anggota FPS-MRM, APBML dan lainnya untuk dengan melaksanakan Worskhop pembuatan pupuk organic dengan bahan-bahan yang mudah diproleh, workshop akan dilakukan pada akhir September mendatang oleh Trainer dari Wild Asia, harapannya pimpinan Kelompok Tani atau penyuluh dari asosiasi petani dapat mengambil manfaat dari workshop tersebut dan nantinya dapat dipraktekkan bersama anggota dan diaplikasikan pada kebun-kebun petani.

Dalam kunjungan Forum Nachhaltiges Palmol (FONAP) tersebut turut hadir Ibu Rukaiyah Rafik Manager Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), Ibu Nurbaya Zulhakim selaku Direktur Yayasan Setara Jambi, Bapak Muhammad Zuhdi alias Cik Edi selaku Direktur Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi, pengurus Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS-MRM) dan pengurus Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML). 



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)