Cerita Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh Menyelamatkan Sungai Pengabuan
Cerita Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh Menyelamatkan Sungai Pengabuan

Warga Desa Sungai Rotan berkumpul di tepian Sungai Batang Pengabuan. Sorak-sorai berganti senyap tatkala tiga orang pawang menetapkan pancanng batas areal yang ditetapkan sebagai lubuk larangan. November 2015, menjadi sejarah bagaimana Lubuk Larangan dikukuhkan. Sebanyak 9 ribu bibit ikan disumbangkan, dengan berbagai macam jenis ikan, diantaranya Semah, Nila, dan Lele. Lubuk Larangan sejauh 500 meter dengan batas hilir, Pulau Kincir Air dan di hulu, Jembatan Betok Muara hilir, Muara Delang.

Sungai Batang Pengabuan menjadi sumber air bagi masyarakat Desa Sungai Rotan. Para perempuan dan anak-anak saban pagi melakukan aktifitas di sepanjang aliran sungai. Mulai dari mandi, mencuci dan buang air besar masih dilakukan di sungai. Secara adat tak tertulis , Sungai Batang Pengabuan  sudah dijaga secara bersama masyarakat di Desa Sungai Rotan. Ada aturan-aturan tak tertulis yang melarang pengambilan ikan dengan cara menyentrum dan meracun.

Inisiasi lubuk larangan ini tercetus saat  Desa Sungai Rotan melakukan acara perlombaan tangkap ikan tradisional dengan cara menembak. Cara tangkap tembak ikan ini, sebagai bentuk kearifan lokal yang sudah berlangsung sejak lama.

M. Suhaili Ketua Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh bilang, Lubuk Larangan sebenarnya hanya pengukuhan saja dari kearifan yang sejak turun menurun sudah berlangsung di Sungai Rotan.

“Sejak dulu memang masyarakat dengan sungai sudah berdampingan. Sebagai sumber air, pangan, dan juga tradisi,” katanya.

Sebagian besar masyarakat Desa Sungai Rotan menggantungkan hidup dari berkebun sawit. Isu sawit berkelanjutan mulai diperkenalkan Yayasan Setara Jambi di 2015. Ada 174 petani sawit swadaya di lima desa, dua Kecamatan Merlung dan Renah Mendaluh Kabupaten Tanjab Barat membentuk wadah organisasi petani sawit swadaya yang diberi nama Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh.

Perjalanan kelembagaan organisasi ini, bukanlah hal yang mudah. Pasang surut semangat anggota pun terkadang menjadi kendala. M. Suhaili bercerita di awal untuk mengusulkan skema sertifikasi sawit berkelanjutan melalui RSPO banyak petani yang meragukannya. “Karena memang belum ada kejelasan dalam mekanismenya, banyak petani yang ragu. Ada yang keluar, mana rapat kadang malam. Kita kan sesuaikan dengan jam kerja petani juga. Kalau siang mereka di kebun,” ungkapnya.


Lima Desa yang tergabung dalam Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh diantaranya Desa Merlung, Lubuk Terap, Pulau Pauh, Rantau Benar, dan Sungai Rotan. Suka duka dan jatuh bangun dalam perjalanan sertifikasi mendpatkan titik terang ketika di September 2015, ada Pre Audit pada 174 orang petani dengan luasan kebun sawit 503,67 hektar yang bersedia mengikuti sertifikasi RSPO. 

“Kita berjuang terus, tanpa putus asa. Perjuangan ini mendapatkan harapan di 2017, kami mendapatkan sertifikasi RSPO,” ungkapnya.

Sertifikat RSPO ini berlaku selama 5 tahun, Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS-MRM) mendapatkan intensif pertama dengan pembelian kerbau dan juga sembako pada anggotanya,

“Kami terima itu dananya pas masuk Ramadhan, kami belikan satu ekor kerbau, dan dibagi rata bagi anggota. Selain itu juga ada bantuan sembako,” kata Suhaili  

Inisiasi Lubuk Larangan diapresiasi The Body Shop

Setiap tahun biasanya, Lubuk Larangan akan dipanen. Desa mendapatkan manfaat dengan memberikan akses bagi masyarakat luar untuk pancing ikan di sana, sebelum panen besar dilakukan. Para pemancing ini membayar Rp 50 ribu kepada panitia desa untuk bisa memancing.


Lubuk Larangan juga menjadi destinasi wisata baru, banyak orang luar yang penasaran untuk melihat ikan-ikan dengan sungai yang jernih. Jembatan gantung melintasi Sungai Batang Pengabuan menambah eksotisme sungai yang asri dan kearifan lokal.
Inisiasi Lubuk larangan mendapatkan perhatian positif dari
The Body Shop. BodyShop membeli sertifikat RSPO Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh mendapat berkah kembali dari cara-cara pengelolaan kebun sawit mereka yang berkelanjutan. Belum lama ini The Body Shop telah memutuskan untuk bekerjasama dengan petani kelapa sawit swadaya anggota Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS-MRM) yang berlokasi di Jambi. Dimana tahun lalu The Body Shop membeli kredit petani mencapai 1000 CPO kredit dan 150 CPKO kredit.

“Mekanisme nya  selama periode Januari-Februari 2020, kalau tidak karena covid ini pihak Body Shop nya mau langsung datang ke sini, untuk mengantarkan langsung dan melihat inisiasi yang sudah dilakukan anggota, “ pungkasnya.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)