Pembuatan PGPR : Langkah Kecil Pemanfaatan Alam Sekitar

By Yonna Ferdiansyah 09 Mar 2020, 14:12:58 WIB Inovasi Petani
Pembuatan PGPR : Langkah Kecil Pemanfaatan Alam Sekitar

Seperti yang kita ketahui, bahwa adanya dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia, maka dibutuhkan teknologi alternatif untuk menggantikan bahkan meningkatkan produksi pertanian yang lebih aman. Sekarang ini banyak alternatif teknologi yang memungkinkan untuk dikembangkan dan relatif aman untuk lingkungan, seperti  pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). 

PGPR adalah bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bakteri yang terdapat dalam PGPR adalah sejenis bakteri yang biasa hidup di akar tanaman dan mampu mengikat nitrogen bebas dari alam. Bakteri ini sendiri berfungsi untuk memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap jamur pathogen serta menyuburkan tanah.

Yayasan Setara Jambi mencoba memulai langkah awal yang baik bersama beberapa petani di Desa Pasar Terusan, Kecamatan Muaro Bulian, Kabupaten Batanghari dengan pembuatan PGPR (pupuk cair) dengan menggunakan bahan dasar akar bambu kuning. Untuk akar bambu sendiri lebih disarankan menggunakan akar bambu kuning, dikarenakan lebih banyak mengandung bakteri rhizobakteria dibandingkan  bambu hijau. 

Baca Lainnya :

    Saat ini belum ada standar takaran khusus untuk penggunaan masing-masing bahan. Tapi biasanya untuk pembuatan 100 liter, memerlukan minimal 2refensi Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan PGPR antara lain :

    -          100 liter air

    -          2 Kg akar bambu/biang

    -          2 Kg dedak

    -          1 Kg terasi

    -          2 Kg gula pasir / gula merah

    Cara membuat :

    Masak air dalam tungku/wadah/drum hingga mendidih. Kemudian campurkan semua bahan (kecuali akar bambu) dan rebus kurang lebih selama 1 jam.  Lalu setelah dingin, campurkan akar bambu yang telah direndam selama 1 x 24 jam sebelumnya. Setelah itu pindahkan kedalam drum atau wadah dan tutup rapat, untuk didiamkan atau fermentasi selama 2 minggu.

     

    PGPR yang telah di fermentasikan selama 2 minggu, sudah dapat langsung diaplikasikan untuk tanaman. Baik itu untuk tanaman padi, hortikutura bahkan tanaman perkebunan. Tentu dosis dan frekuensi pengaplikasiannya berbeda-beda tergantung jenis dan umur tanaman. Seperti halnya penggunaan pada fase pembenihan/penyemaian, sebagai pemupukan dasar, pemupukan susulan I, pemupukan susulan II, dan juga untuk pemupukan rutin tiap minggu atau bulanan. Namun umumnya acuan dosis yang dipakai biasanya adalah 1 liter PGPR untuk 15 liter air (1 : 15).

    Dari kegiatan ini, diharapkan mampu dimanfaatkan dan di aplikasikan lebih banyak oleh teman-teman petani. Karena dengan penggunaan PGPR sebagai salah satu pupuk cair, tentu mampu menekan biaya usahatani serta secara langsung memulai pertanian yang sehat dan ramah lingkungan. Bahkan dibeberapa tempat, PGPR sendiri sudah menjadi unit usaha petani. Petani bermitra dengan perusahaan perkebunan dan menjual PGPR dalam produksi yang telah ditentukan. Bahan untuk pembuatannya pun sangat mudah didapatkan, murah dan bisa dicoba dalam skala kecil.

    Sebagai catatan, tanda bahwa pembuatan PGPR berhasil yaitu setelah 2 minggu di fermentasi, bau atau aroma PGPR akan seperti bau tape. Ini menandakan bahwa bakteri yang terkandung aktif dan berkembang.




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Write a comment

    Ada 11 Komentar untuk Berita Ini

    View all comments

    Write a comment