Welcome to SETARA JAMBI

Kel Mayang Mangurai Kec Alam Barajo
Jambi-36126
Telepon : 0741 5911449
info@setarajambi.org

09.00–17:00
Senin s/d Jumat

Menggantung Harapan Pada Keberlanjutan

“Harapan petani kecil dan mandiri pasca pertemuan RSPO”

Jika pada awalnya petani kelapa sawit skala kecil atau yang sering disebut dengan petani mandiri tidak pernah terperhatikan, tapi dalam 2 tahun terakhir ini, kondisi berbalik. Petani kelapa sawit terutama petani mandiri terus menjadi topic perbincangan serius dalam pertemuan-pertemuan penting RSPO[1]. Tak heran jika kemudian Petani mandiri menjadi target berikutnya yang akan didorong untuk terlibat dan ikut mempromosikan semangat dari RSPO, yaitu minyak sawit berkelanjutan.

Situasi ini lebih dikarenakan, petani mandiri walau kecil tapi turut serta dalam menggerakkan rantai roda industri kelapa sawit. Secara nasional, petani mandiri menguasai sekitar 975.000[2] Ha dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang mencapai 7,3 juta Ha[3]. Memang tak terlalu significant, tapi petani mandiri telah berkontribusi bagi terus bergeraknya rantai produksi minyak sawit di dunia.

RSPO, sertifikasi dan fakta petani mandiri

Tabel ini bisa menggambarkan tentang sertifikas dan fakta petani mandiri.

 

Petani mandiri dari masyarakat lokal/adat/setempat

Petani mandiri dari masyarakat pendatang/transmigrasi

Asal petani

Masyarakat asli/lokal

Transmigrasi umum, transmigrasi khusus dan pendatang

Lahan

Lahan milik keluarga, lahan warisan,

Diberikan oleh pemerintah melalui skema transmigrasi, untuk transmigrasi umum, biasanya mereka menanami LU 1 dengan tanaman kelapa sawit secara mandiri, dan LU 2 mereka mitrakan dengan perusahaan.

Membeli dari masyarakat lokal

Bibit

Bibit cari sendiri (dipasar, diwarung), dan ada juga bantuan dari pemerintah tapi terbatas.

Hampir 90% bibit bukan unggul dan tidak sertifikat

Bibit cari sendiri (dipasar, diwarung), dan ada juga bantuan dari pemerintah tapi terbatas. Hampir 80% bibit bukan bibit unggul dan tidak sertifikat

Pupuk dan pestisida

Membeli sendiri dipasar dengan harga pasar

Membeli sendiri dipasar

Pengetahuan perawatan, pengelolaan kebun (GAP)

Biasanya menggunakan pengetahuan tradisional mereka untuk merawat kebun (memupuk, membersihkan kebun)

Biasanya petani ini memiliki banyak pengetahuan tentang cara merawat kebun, karena punya pengalaman dalam bermitra dengan perusahaan.

Pemanenan buah

Dilakukan secara sendiri-sendiri, dan tidak memiliki jadwal dan rotasi panen

Dilakukan secara sendiri-sendiri, dan dipanen sebanyak 2 kali dalam 1 bulan (agar kualitas terjaga, pemanenan dianjurkan dilakukan 3 kali dalam 1 bulan atau setiap 10 hari)

Pengetahuan tentang lingkungan dan keanekaragaman hayati dalam praktek perkebunan (HCV)

Mengetahui sebatas pengetahuan tradisional, seperti tanaman tidak selalu monokulture, tapi menumpang sari dengan tanaman karet dan padi. Juga pengetahuan tentang pentingnya sungai dan sumber mata air.

Dalam praktek pembangunan kebun, mereka kerap kali menggunakan api tapi dengan metode tradisional.

Tidak mengetahui sama sekali.

Pemasaran TBS

Melalui tengkulak

Melalui tengkulak dan terkadang jika ada KUD didesa mereka, mereka akan jual ke KUD.

Pengetahuan tentang perundang-undangan

Tidak mengetahui

Mengetahui tapi tidak memahami

Pengetahuan tentang minyak sawit berkelanjuntan dan RSPO

Tidak mengetahui

Tidak mengetahui

Kelembagaan (koperasi)

Tidak ada

Tidak ada (kalau ada mereka menggunakan kelompok tani sebagai kelembagaan)

Sistem pengawasan dan sistem pendokumentasian

Tidak ada.

Tidak ada

Pembinaan pemerintah dan perusahaan

Tidak ada

Tidak ada

Kesiapan menuju sertifikasi minyak sawit berkelanjutan

5 tahun (jika mereka didampingi, dan akses modal, informasi, dan akses terhadap bibit, pestisida, pupuk dan akses pengetahuan tentang GAP, HCV dibuka lebar)

5 tahun ((jika mereka didampingi, dan akses modal, informasi, dan akses terhadap bibit, pestisida, pupuk dan akses pengetahuan tentang GAP, HCV dibuka lebar)

Petani mandiri dan RSPO; kenapa begitu penting?

Petani mandiri saat ini memang berdiri dengan tumpukan kelemahan (pengetahuan, akses, dan kelembagaan), tapi petani mandiri tetap menjadi pihak yang penting dalam rantai minyak kelapa sawit. Petani mandiri di Indonesia mengelola setidaknya 3 juta Ha lahan. Artinya selain perusahaan dan petani plasma, petani mandiri turut menggerakkan bisnis ini, tak hanya di Indonesia, bahkan di dunia. Dalam skala kecil, misalnnya di propinsi Jambi, petani mandiri menguasai 130.000 Ha, atau sekitar 30% dari total luas perkebunan kelapa sawit di propinsi Jambi yang mencapai 480.000 Ha.

Forum RSPO tidak berhasil jika hanya anggotanya saja yang menerapkan minyak sawit berkelanjutan, tapi lebih luas dari itu, RSPO adalah forum yang mestinya menjadi pelopor minyak sawit berkelanjutan di dunia. Keberhasilan RSPO tidak akan dilihat dari semakin banyaknya anggota yang mendapat sertifikat, tapi keberhasilan RSPO akan dilihat dari semakin banyaknya pihak-pihak pelaku dan rantai industri minyak sawit yang turut mempromosikan penggunaan dan turut memproduksi minyak sawit berkelanjutan, baik yang menjadi anggota RSPO atau yang bukan menjadi anggota RSPO. Petani mandiri termasuk pihak yang bukan anggota RSPO, tapi RSPO telah memberikan inspirasi tentang minyak sawit berkelanjutan, dimana ekonomi dan lingkungan bisa berdampingan.

Forum RSPO diharapkan bisa menjadi mediasi bagi persoalan-persoalan perkebunan besar kelapa sawit dengan cara mendorong criteria-kirteria dan indicator, tentu dengan harapan bahwa indicator-indikator tersebut tidak hanya sebagai save guard bagi investasi, tapi juga menjadi penjamin bagi terus berlansungnya keseimbangan tiga pilar, manusia, ekonomi dan lingkungan.

RSPO membangun harapan; petani mandiri menggantung harapan

RSPO melalui INA-SWG di Indonesia telah rampung menyelesaikan pendiskusian draft prinsip dan criteria minyak sawit berkelanjutan yang diperuntukkan bagi petani mandiri, dan diharapkan pada pertemuan Rountable 8 yang berlansung di Jakarta, draft tersebut diterima dan disahkan oleh RSPO. Forum yang hingga hari ini terus bertambah anggotanya ini telah membangun harapan bagi petani mandiri. Harapan bagi peningkatan pendapatan, harapan bagi kesejahteraan.

Melalui Prinsip dan Kriteria--yang dinilai oleh banyak pihak telalu longgar tapi bagi petani prinsip dan criteria tersebut masih sangat ketat—petani membangun harapan, dimana harapan akan perbaikan produksi yang kemudian mendorong perbaikan harga bisa menjadi nyata. Tapi harapan-harapan ini harus disertai dengan komitmen oleh para pihak, pemerintah, perusahaan, dan juga petani itu sendiri untuk terus mendorong minyak sawit berkelanjutan, dan berusaha membuka ruang-ruang akses modal, informasi, pendampingan, yang dahulu sempat tersumbat dan sempat menghambat pertumbuhan ekonomi petani kelapa sawit mandiri.

Yayasan SETARA

Yayasan SETARA Jambi adalah sebuah NGO yang berkedudukan di propinsi Jambi. Organisasi ini berdiri pada bulan Mei 2007 melalui akte Notaris Novita SH, No. 1 tahun 2007, adalah organisasi yang lahir dari keprihatinan akan terus meluasnya perkebunan kelapa sawit skala besar di propinsi Jambi, namun masyarakat adat, masyarakat lokal dan bahkan petani kelapa sawit tidak turut sejahtera secara ekonomi, social dan budaya. Bahkan ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar telah menyumbang kantong-kantong kemiskinan baru dibeberapa tempat di propinsi Jambi. Berdasarkan hal tersebut, SETARA Jambi kemudian membangun beberapa insiatif local untuk mendorong masyarakat adapt/local dan petani kecil kelapa sawit menjadi pihak yang tidak lagi dimarginalkan dalam pengembangan dan pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar. Untuk masyarakat adapt dan local, SETARA mencoba membangun skema resolusi konflik yang tentu mengedepankan musyawarah dan mufakat (saat ini terkenal dengan prinsip FPIC) yang dibangun secara bersama oleh para pihak terutama pihak yang berkonflik dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan. Dan bagi petani-petani kecil, terutama petani kelapa sawit dan petani pangan, yayasan SETARA mencoba membuka ruang-ruang dan akses (modal, informasi, pengetahuan) yang selama ini tersumbat atau sengaja disumbat.

 


Leave a Comment