Welcome to SETARA JAMBI

Kel Mayang Mangurai Kec Alam Barajo
Jambi-36126
Telepon : 0741 5911449
info@setarajambi.org

09.00–17:00
Senin s/d Jumat

Menakar komitmen Sustainability Wilmar Group di Jambi

Wilmar is firmly committed to respecting human rights. We have land conflict resolution policies, systems and mechanisms in place and comply with relevant laws and regulations in the countries in which we operate. Furthermore, we have a good track record of proactively engaging and working with our stakeholders including the local communities, government agencies and NGOs to ensure limited social impact in areas of our operations.”

Pernyataan ini resmi dikeluarkan oleh Wilmar International Limited di 30 Agustus 2011, ketika terjadi kampanye besar-besaran di Jerman oleh Robin Wood atas penggusuran rumah dan mengusiran paksa warga Suku Anak Dalam yang dilakukan oleh PT Asiatic Persada, salah satu anak perusahaan Wilmar di Jambi.

Jika mencerna makna dari pernyataan diatas, dan komitmen mereka yang disampaikan secara lansung kepada perwakilan Suku Anak Dalam pada bulan Oktober 2011 di Kota Kinabalu Malaysia, sangat jelas, bahwa Wilmar secara organisasi sangat berkomitmen terhadap penyelesaian konflik dan bersedia untuk mengikuti skema penyelesaian yang digagas oleh CAO-IFC. Selain karena memang Wilmar adalah peminjam dana dari IFC dan sebagai clien haruslah mengikuti mekanisme yang ada di IFC yaitu melalui mekanisme CAO, maka disisi yang lain, Wilmar adalah Anggota RSPO sejak tahun 2005, dan sebagai anggota RSPO dan juga sebagai perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi RSPO, maka Wilmar memiliki tanggung jawab untuk segera menyelesaian konflik sosial sebagai salah bentuk komitmen mereka terhadap minyak sawit berkelanjutan.

Namun kini, komitment berkelanjutan dan komitmen sebagai perusahaan yang sangat menghargai hak Asasi Manusia yang digembar-gemborkan oleh Wilmar di dunia international, seolah hanyalah sebagai pemanis saja, ketika Wilmar menjual seluruh sahamnya di PT Asiatic Persada kepada Prima Fortune International Ltd and PT Agro Mandiri Semesta, dan bayangkan penjualan saham yang dilakukan pada bulan April 2013 adalah bertepatan dengan sudah makin dekatnya proses mediasi yang difasiltiasi oleh CAO-IFC bersama pemerintah propinsi Jambi pada kesepakatan-kesepakatan penyelesaian konflik. Terang saja, penjualan saham yang dilakukan oleh Wilmar atas PT Asiatic Persada yang dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan, tanpa konsultasi dan tanpa sosialisasi pada kelompok-kelompok Suku Anak Dalam yang terlibat dalam mediasi, secara keseluruhan sangat berdampak pada proses perundingan. Karena mediasi yang dilakukan adalah mediasi yang berada dalam mekanisme CAO-IFC yang hanya tunduk pada standar investasi IFC. Dan ketika PT Asiatic Persada dijual oleh Wilmar, maka Wilmar dengan gampang menyampaikan bahwa Wilmar tidak memiliki hubungan lagi dengan PT Asiatic Persada, dan tidak lagi memiliki tanggung jawab untuk duduk berunding dengan Suku Anak Dalam.

Sebetulnya, ini bukanlah kejadian pertama dimana Wilmar menyalahi komitment mereka sendiri. Beberapa waktu lalu, yaitu tahun 2009 juga pernah dilakukan mediasi serupa dimana pada saat itu CAO-IFC adalah terlibat sebagai pemantau mediasi. Dan ketika mediasi hampir sampai pada membangun kesepakatan-kesepakatan bersama yang dibangun bersama dalam proses mediasi, seketika itu pula Wilmar melakukan ulah dengan tidak menghargai hasil kesepakatan mediasi, dan melanggar Tata Laksana Perundingan yang kemudian berdampak pada penghentian mediasi, dan penghentian mediasi ini terjadi pada awal tahun 2011.

Jikalau kita menakar dari situasi yang terjadi sepanjang tahun 2009 sampai 2011, dan yang terjadi pada 2013, mungkin dapat disimpulkan bahwa komitmen Wilmar mengenai keberlanjutan, mengenai penghargaan pada hak asasi manusia, dan komitmen penyelesaian konflik yang terjadi dengan Suku Anak Dalam hanyalah komitmen kosong yang mungkin telah berhasil dalam mengelabui CAO, IFC, RSPO dan bahkan mampu mengelabui dunia International, tapi tak akan pernah mampu mengelabui Suku Anak Dalam yang saat ini masih tetap gigih dalam memperjuangkan hak mereka, yang selama ini tidak peduli, apakah itu milik Wilmar, apakah itu milik Prima Fortune International Ltd atau milik PT Agro Mandiri Semesta, bagi mereka, memperjuangkan hak adalah memperjuangkan keadilan.


Leave a Comment