Welcome to SETARA JAMBI

Kel Mayang Mangurai Kec Alam Barajo
Jambi-36126
Telepon : 0741 5911449
info@setarajambi.org

09.00–17:00
Senin s/d Jumat

Catatan Peringatan Hari Pangan

Desa Karmeo, 17 Oktober 2013

“Umo dan Tradisi Baumo adalah warisan leluhur, merupakan tanggung-jawab kita agar umo dan tradisi baumo mampu kita wariskan kepada anak-cucu kelak. Perubahan memang susuatu yangg mutlak terjadi... dulu rumah-rumah di dusun merupakan rumah panggung, kini telah berubah menjadi rumah beton. Dulu, perjalanan sejauh apapun ditempuh dengan berjalan kaki, lalu muncul sepeda sebagai kendaraan, lalu berubah menjadi kendaraan roda dua, dan kini kendaraan roda empat sudah berderet di sepanjang jalan dusun. Tapi lihatlah, suatu hal yang tak berubah, dan mungkin tak kan pernah berubah bahwa 'KITA MASIH MAKAN NASI'. karena itulah kita harus menjaga dan melindungi lahan pertanian pangan ini! demi kemandirian dan kedaulatan pangan dimasa akan datang”.

Pangan merupakan kebutuhan pokok utama bagi manusia dari dua kebutuhan pokok lainnya yakni sandang dan pakaian, pangan menjadi sumber utama yang menggerakkan kehidupan manusia, maka sudah pasti tiada kehidupan tanpa pangan.

Melihat situasi saat ini, perjuangan menuju kemandirian pangan nasional dihadapkan pada problem yang tidak sederhana; cuaca ekstrim, menurunnya produksi, alihfungsi lahan, menurunnya animo masyarakat, desakan ekspansi perkebunan kelapa sawit, lemahnya proteksi atas lahan dan sistem distribusi pemasaran hasil, kuatnya kepentingan bisnis impor pangan, dan pergeseran budaya masyarakat merupakan serangkaian problem sebab-akibat yang membutuhkan kerja keras dan keseriusan dari semua pihak untuk mengurainya kedalam bentuk solusi kongkrit yang efektif.

Pada situasi yang lain, meski dihadapkan pada serangkaian problem di atas, dan di tengah gemerlap kemilau perkebunan kelapa sawit, sekelompok masyarakat masih terus mengumpulkan serpihan semangat untuk mempertahankan dan mengembangkan lahan pertanian pangannya, memanfaatkan lahan dan pekarangan dengan tanaman campuran, mempetahankan tradisi baumo meski tidak sama persis dengan apa yang dilakukan oleh para orang tua terhadulu, tapi setidaknnya berusaha mengembangkan tanaman karet atau mungkin sawit tanpa harus mengabaikan tanaman padi, jagung dan lainnya. Tradisi bertani padi dan tanaman pangan lainnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada tradisi leluhur dan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan keluarga, maka kalaupun ada sisa dari hasil panen yang dapat mereka jual, itu menjadi bonus dari apa yang mereka lakukan.

Demikian yang dilakukan oleh 150 orang petani di Desa Karmeo Kecamatan Batin XXIV Kab. Batang Hari, mengolah sawah seluas 108 Ha sejak puluhan tahun lalu. Dari 1.301 Ha total sawah yang diolah oleh seluruh desa di Kecamatan batin XXIV pada tahun 2007 (data BP3K Kec. Batin XXIV tahun 2008), hanya sawah Desa Karmeo dan Simpang karmeo yang bertahan diolah hingga saat ini. Dan mirisnya, saat ini petani padi Desa Karmeo termasuk Simpang karmeo dihadapkan pada tantangan besar dengan hadirnya perusahaan perkebunan kelapa sawit disekitar areal sawah mereka.

Pada moment Peringatan Hari Pangan Se-Dunia ke 33, petani Desa Karmeo mengadakan Syukuran, megundang Pemerintah Kabupaten dan perwakilan petani dari desa lainnya di Kecamatan Batin XXIV untuk membangun dukungan, solidaritas dan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga dan melindungi lahan pertanian pangan demi terwujudnya kemandirian dan kedaulatan pangan di masa akan datang.

Intisari peringatan HPS Desa Karmeo :

  1. Umo (lahan pertanian pangan) dan tradisi Baumo (memproduksi bahan pangan sendiri) adalah warisan nenek moyang yang seharusnya dijaga dan dilindungi agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, setidaknya untuk kemandirian dan kedaulatan pangan di desa.
  2. Perlindungan lahan pertanian pangan tidak hanya menjadi tanggung-jawab petani semata, bukan juga sepenuhnya menjadi tanggung-jawab pemerintah, akan tetapi sejatinya petani, pemerintah dan masyarakat luas melakukan upaya perlindungan lahan pertanian pangan bersama-sama. Karena sebesar apapun nilai bantuan pemerintah kalau tidak ada niat dan spirit dari petani untuk terus mengola lahan pertanian pangannya, semua program bantuan akan sia-sia. Sebaliknya; sekuat apapun niat dan sebesar apapun semangat petani untuk terus mengola sawah/umonya, jika tidak ada dukungan perlindungan dan support dari pemerintah (mulai dari level Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa) seteguh apapun niat dan sekuat apapun semangat petani, akan luntur oleh gempuran seabrek persoalan; cuaca ekstrim, hama, dan yang paling nyata adalah desakan ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar, yang terus dikemas dengan segala macam bentuk modus yang menjanjikan kesejahateraan sesaat.
  3. Diperlukan kebijakan (tingkat daerah dan desa) perlindungan lahan pertanian pangan untuk mencegah alih-fungsi, tapi disamping itu yang paling diperlukan adalah kepedulian dan keberpihakan kita terhadap semakin menurunnya luas pertanian pangan, yang berbading lurus dengan semakin tingginya ketergantungan kita pada pasokan beras dari daerah lain bahkan Negara lain.
  4. Pencetakan sawah baru harus dibarengi dengan upaya perlindungan lahan sawah yang ada, karena selain membutuhkan biaya yang besar, cetak sawah tak serta merta mampu membangkitkan semangat pertani untuk mengelolahnya.
  5. Sawah tinggal jauh lebih baik dari pada beralih fungsi atau beralih kepemilikan, karena jika saat ini kita belum tergugah karena beras tersedia dengan mudah di pasar, tapi jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam dan bencana gagal panen di daerah-daerah yang memasok beras selama ini, harapannya sawah tinggal menjadi modal awal kita untuk kembali beumo.

Disusun oleh : Baya


Leave a Comment