Welcome to SETARA JAMBI

Kel Mayang Mangurai Kec Alam Barajo
Jambi-36126
Telepon : 0741 5911449
info@setarajambi.org

09.00–17:00
Senin s/d Jumat

Berkebun sawit; model adaptasi rakyat masa kini

Melihat makin maraknya masyarakat adat, masyarakat lokal, petani karet dan petani pangan menanam kelapa sawit.

“Anda akan berhasil, kalau anda beradaptasi” Charles Darwin

Pendahuluan

Dimana-mana kelapa sawit selalu mendominasi tanaman pertanian dan bahkan tanaman perkebunan.

Tak ada lagi kehijauan kebun karet yang berjajar disepanjang jalan, yang sering kita saksikan ketika melakukan penjalanan jauh, terutama di Pulau Sumatera, dan tak ada lagi bentangan hamparan kebun karet dan tanaman buah-buahan yang beraneka warna yang selalu disuguhkan oleh alam ketika kita berada didalam pesawat. Yang ada hanyalah hamparan hijau tua seragam yang rapi dan teratur, yang ada hanyalah deretan pohon-pohon yang tampak angker karena hampir semuanya mirip dan serupa, yang membentang luas dan berjejer rapi, dialah kelapa sawit. Tak ada wilayah yang tak dirambah oleh tanaman yang berasal dari suku palma ini, dari hutan daratan tinggi, hingga dataran rendah, dari tanah berbatu hingga tanah bergambut, dari sela-sela kebun karet hingga disela-sela padi, dari hulu hingga kehilir, dan bahkan tanaman ini merambah hingga pekarangan kantor pak Bupati. Apakah yang terjadi? Apakah kelapa sawit seumpama pohon emas yang akan berbuah berlian? Ataukah kelapa sawit adalah tanaman yang menjanjikan sebuah harapan dimasa depan, dimana ditengah desakan ekspansi kelapa sawit skala besar yang makin meminggirkan rakyat, dimana ditengah makin maraknya projek-projek carbon yang makin menggerus sumber-sumber kehidupan masyarakat adat yang selama ini bergantung pada hutan dan hasil hutan, dimana ditengah makin terpinggirkannya petani-petani karet dan petani pangan.

Petani kelapa sawit sawit; dari performa hingga akses

Jika sepanjang tahun 1990-an kelapa sawit masih diusahakan oleh kalangan tertentu, terutama perusahaan. jika ada petani yang terlibat maka keterlibatannya adalah sebagai bagian penting dalam program pemerintah dan program perusahaan tersebut. keterlibatan petani masa lalu dalam bentuk Pola Inti Rakyat yang lebih terkenal dengan Pola Plasma, atau pola KKPA yang melibatkan masyarakat lokal dalam perkebunan kelapa sawit. Maka pada sepanjang tahun 2000-an, keterlibatan petani dalam kelapa sawit tidak lagi terbatas pada adanya program pemerintah atau program perusahaan. kini dari petani karet, petani buah-buahan, petani sayur, hingga petani padi kini mulai menjadi petani sawit. mula-mula 1 Ha, lalu 2 hektar, dan kini banyak petani-petani tersebut mengganti lahan-lahan mereka menjadi kebun sawit yang mencapai puluhan hektar.

“sebenarnya kami tak suka dengan kelapa sawit, karena harus banyak modal untuk pupuk, untuk racun dan sebagainya. Kalau kebun karet tak perlu dirawat seperti kelapa sawit, tinggal panen saja setiap hari. Sama juga dengan padi, kita hanya perlu tenaga, tak perlu banyak modal. Kami terpaksa tanam kelapa sawit, karena sekeliling desa ini telah banyak kebun sawit, sehingga kami hanya dapat hama, tanah kering, dan banyak babi yang datang dari kebun sawit perusahaan. kami jadi susah, mau buat jaring, kami dak ado modal. Yah, terpaksa kami juga ganti kebun dan sawah kami jadi kebun sawit”. ungkapan dari pak Ibrahim dari Batanghari.

Lain cerita pak Ibrahim, lain pula cerita pak Zainal dari Tanjung Jabung Barat.

“kami terpaksa jadi petani sawit. sejak pabrik karet tutup, kami jadi susah jual karet, kalaupun ada yang beli, kadang-kadang harganya murah. Sejak kami tanam sawit, memang belum dapat keuntungan apa-apa, tapi kami jadi mudah dapat pinjaman dari Bank untuk modal buat warung. Kalau dulu ketika kami masih berkebun buah-buahan dan karet, sangat susah dapat pinjaman uang dari bank”.

Berkebun kelapa sawit; strategi bertahan dari tekanan ekspansi skala besar

Ekspansi perkebunan kelapa sawit makin massif sejak tahun 2006, ketika kebijakan tentang penggunaan dan produksi BBN dari kelapa sawit dikeluarkan oleh presiden RI melalui Inpres tahun 2006, yang kemudian diikuti dengan makin kencangnya program pemerintah mengenai energy terbarukan ini. walau saat ini rencana tersebut tak berjalan mulus didalam negeri (minimnya kendaraan yang berbahan baku energi biofuel dan hampir tak adanya perusahaan yang memproduksi Biofuel di Indonesia), namun fakta membuktikan bahwa ekspansi kelapa sawit besar-besaran berlindung dibalik kebijakan ini. Akibatnya adalah ruang-ruang rakyat makin menyempit seiring makin membesarnya ruang-ruang korporasi skala besar dan skala international menguasai lahan-lahan subur hampir diberbagai pelosok negeri ini. Rakyat harus puas dengan hanya mengelola lahan seluas 1 Ha/KK, harus rela jika lahan-lahan subur tak lagi tersisa dan tersimpan bagi mereka, dan harus diam ketika korporasi mulai merangsek perlahan-lahan kehalaman belakang rumah mereka.

“kami berkebun sawit, agar tanah kami tak lagi diserobot oleh perusahaan kelapa sawit, karena kalau kami masih tanam buah-buahan dan tanam padi, maka kebun kami akan rusak, dan perusahaan akan memaksa kami menjual lahan kami kepada mereka, karena mereka bilang lahan kami tidak produktif. Kalau kami menolak menjual, mereka akan menyerobot lahan kami. Makanya kami tanam kelapa sawit biar perusahaan tak bisa mengatakan lahan kami lahan tidur, dan tidak ada alasan untuk menyerobot, karena dengan kami tanam sawit, mereka pasti gembira karena kami akan jual buah sawit kami ke pabrik mereka.” Ungkap seorang petani padi dari Tanjung Jabung Timur

Berkebun sawit; mempertahankan hak

Jika dahulu, bertanam kelapa sawit adalah sesuatu yang sangat tabu bagi masyarakat adat terutama bagi Suku Anak Dalam Batin Sembilan, karena nenek moyang mereka mewariskan kebun dan hutan bagi anak cucu mereka. Hutan adalah rumah, sumber bahan pangan, sumber papan dan sumber kehidupan. Kehidupan dimulai dari hutan. Tanpa hutan, tak ada kehidupan. Dan inilah yang diwariskan oleh nenek moyang Suku Anak Dalam Batin Sembilan. Tapi seolah berbalik, kini pelan tapi pasti Suku Anak Dalam Batin Sembilan yang berada di dikawasan eks HPH Asialog (kini telah dikuasai oleh konsesi restorasi ekosistem PT REKI/Harapan Rainforest) kini mulai menanam hutan mereka, mulai menebang karet mereka dan menanamnya dengan tanaman kelapa sawit. Hutan-hutan yang dahulu dijaga dan menjadi sumber pangan dan papan mereka kini telah berubah jadi kebun sawit. Bukan bermaksud untuk mengikuti trend berkebun sawit, tapi Suku Anak Dalam Batin Sembilan tak punya pilihan lagi selain berkebun kelapa sawit.

“kami berkebun sawit, sebenarnyo tak ado pengalaman, pengalaman kami berkebun para (karet), tapi kalau kami berkebun parah bae, kebun kami akan diklaim oleh PT REKI sebagai bagian dari konsesi mereka, sementara kalau kebun kami masuk dalam konsesi mereka, kami dak biso lagi membersihkan karet, menebang rumput, karena dilarang oleh PT. Makonyo kami tanam sawit, biar PT tak biso lagi klaim kebun kami masuk HGU mereka”. ungkap salah satu Suku Anak Dalam Batin Sembilan yang sejak dahulu hingga kini hidup di tanah moyang mereka, yang sekarang dikuasai oleh PT REKI.

Berkebun sawit agar mendapat pengakuan hak

Selain berkebun sawit sebagai strategi untuk mempertahankan hak mereka atas tanah, berkebun kelapa sawit juga dinilai menjadi jalan efektif untuk mendapatkan mengakuan hak. Jika kebanyakan masyarakat lokal, dan bahkan masyarakat adat tergusur dari hutan dan lahannya hanya dikarenakan tidak diakuinya hak mereka kebanyakan masyarakat lokal, dan bahkan masyarakat adat tergusur dari hutan dan lahannya hanya dikarenakan tidak diakuinya hak mereka sebagai pengelola hutan, dan tidak diakuinya sebagai kelompok masyarakat yang mampu menjaga hutan dengan model dan sistem kearifan lokal. Berkebun kelapa sawit kemudian menjadi alernatif akhir bagi mereka agar hak mereka diakui, seperti pengakuan hak bagi masyarakat transmigran, masyarakat migran dan masyarakat pendatang. Masyarakat local atau masyarakat adat melihat bahwa masyarakat migran atau tranmigran banyak yang diakui haknya melalui pengakuan legalitas ketika mereka berkebun kelapa sawit.

Kelapa sawit, dengan semua masalah kerusakan lingkungan dan konflik sosial, ternyata telah menjadi alternatif baru bagi rakyat miskin, rakyat tertindas dan petani kecil untuk menggunakannya sebagai salah satu strategi adaptasi atas situasi dan kondisi dimana mereka makin tak punya ruang, makin terdesak dan terpinggirkan dalam pembangunan. Mungkin mereka ingin menyampaikan : Sudah saatnya kami yang berkuasa, dan cukup sudah korporasi membunuh kami dan generasi kami secara perlahan-lahan.

Oleh: Rukaiyah Rofiq


Leave a Comment