Welcome to SETARA JAMBI

Kel Mayang Mangurai Kec Alam Barajo
Jambi-36126
Telepon : 0741 5911449
info@setarajambi.org

09.00–17:00
Senin s/d Jumat

Basa-basi sertifikasi minyak sawit berkelanjutan bagi petani swadaya

Bagian I

“sebuah catatan dari Jambi untuk pertemuan RT 9 RSPO di Kinabalu Sarawak pada 21-24 November 2011”

Tak ada yang menyangkal bahwa petani mandiri turut berkontribusi terhadap bergeraknya mesin minyak sawit di dunia. Walau belum ada data yang tepat mengenai jumlah kontribusi minyak sawit dari kebun petani swadaya di Indonesia, namun dalam banyak catatan, kontribusi perdagangan CPO di dunia, yang berasal dari kebun petani swadaya adalah berkisar 35%.

Namun ternyata kontribusi itu tidak mendapat perhatian dimata pemain-pemain besar minyak sawit di dunia. RSPO sebagai forum multi pihak yang menjadi harapan bagi petani swadaya untuk mendapat perhatian, juga tidak menolong. Bahkan ketika prinsip dan Kriteria sertifikasi untuk petani swadaya yang telah disahkan pada RT8 lalu, dimana prinsip dan kriteria tersebut banyak memberikan ruang bagi petani swadaya pun tak bisa jadi jaminan.

Ketika bicara mengenai perusahaan besar kelapa sawit dan sertifikasi minyak sawit berkelanjutan, maka yang akan lebih dahulu muncul adalah mampukah perusahaan-perusahaan besar memenuhi prinsip lingkungan dan sosial? Yang menjadi syarat penting bagi sertifikasi minyak sawit berkelanjutan? Tentu saja iya, nyatanya perusahaan-perusahaan tersebut secara cepat mampu mendapatkan sertifikasi RSPO walau secara nyata juga catatan-catatan dan fakta-fakta buruk mengenai pengelolaan lingkungan dan persoalan konflik sosial kerap berseliweran bersama proses audit menuju sertifikasi. Dan sertifikasipun telah mampu menjadi pembenar bagi catatan-catatan dan fakta-fakta buruk yang tetap dilakukan sekalipun sertifikasi telah didapatkan.

Bagaimana pula dengan petani swadaya?       

Jika mencermati prinsip dan criteria minyak sawit berkelanjutan untuk petani swadaya, maka tentu secara cepat kita akan menyatakan bahwa sertifikasi minyak sawit berkelanjutan bagi petani swadaya adalah sangat mungkin dilakukan, karena prinsip dan kriteria penuh dengan pertimbangan mengenai kondisi sesungguhnya terhadap petani swadaya, kelembagaan yang tidak kuat, pengetahuan budidaya yang lemah dan akses informasi tidak ada menjadi salah satu pertimbangan dalam sertifikasi minyak sawit berkelanjutan bagi petani swadaya. Namun, walau petani swadaya memiliki peluang besar untuk terlibat dalam rantai sertifikasi minyak sawit berkelanjutan, tak demikian dengan kenyataan. Walau banyak pihak yang berkomitment untuk mendukung kapasitas pengetahuan petani swadaya, walau banyak pihak yang berkomitment mendukung petani swadaya menjadi rantai penting dalam sertifikasi minyak sawit berkelanjutan tapi fakta menunjukkan bahwa semua komitmen tersebut hanyalah basa-basi yang berkelanjutan. Bayangkan, walau prinsip dan kriteria RSPO untuk petani mandiri tidak mempersoalkan asal usul bibit yang telah ditanam oleh petani swadaya, tetap saja, para pihak yang pernah berkomitmen untuk membantu dan mendukung petani swadaya turut mempromosikan minyak sawit berkelanjutan melalui sertifikasi, selalu mempersoalkan asal usul bibit yang telah ditanam oleh petani, dan asal usul bibit tersebutpun dijadikan sebagai indikator penting bisa atau tidak petani swadaya didukung dan mendapatkan sertifikasi minyak sawit berkelanjutan. Alangkah malang nasib petani swadaya, yang harus terus berada paling belakang dalam rantai minyak sawit dan rantai sertifikasi minyak sawit berkelanjutan. Dan alangkah malang nasib petani swadaya, karena sertifikasi minyak sawit berkelanjutan, hanyalah sebuah basa-basi bagi mereka.

Oleh: yayasan SETARA


Leave a Comment