Welcome to SETARA JAMBI

Kel Mayang Mangurai Kec Alam Barajo
Jambi-36126
Telepon : 0741 5911449
info@setarajambi.org

09.00–17:00
Senin s/d Jumat

Basa-basi RSPO dan minyak sawit berkelanjutan

Bagian II

Banyak orang percaya bahwa suatu saat korporasi akan menjadi lebih manusiawi, lebih menghormati hak-hak masyarakat adat, lebih mengedepankan prinsip Free, Prior, Informed Consent dalam aktifitasnya, lebih menghargai Hak Azazi manusia. Dan kepercayaan itu terus meningkat ketika 9 tahun lalu digagas sebuah forum yaitu RSPO yang memiliki tujuan mulia yaitu mempromosikan penggunaan dan produksi minyak sawit berkelanjutan.

RSPO atau Roundtable Sustainable Palm Oil adalah sebuah forum yang dididirikan oleh para pihak yang berkepentingan terhadap minyak sawit. Ada industri retailer, ada industri perkebunan, ada consumer dan juga NGO konservasi dan NGO sosial. Dengan tujuan agar RSPO bisa membangun standar yang dapat mendorong industri kelapa sawit lebih ramah lingkungan dan menghormati hak-hak masyarakat lokal serta hak masyarakat adat. Ditengah situasi di Indonesia dimana hak-hak masyarakat adat diakui dengan beberapa indikator dan syarat, ditengah situasi pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya mendorong industri ekstraktif diareal-areal kelola masyrakat lokal dan masyarakat adat, ditengah situasi dimana perusahaan semakin tak terkendali melakukan ekspansi terutama untuk memenuhi bahan baku, RSPO tentu menjadi harapan.

Namun akankah RSPO menjadi harapan ketika ternyata banyak anggota-anggota RSPO justru menodai prinsip dan kriteria dari minyak sawit berkelanjutan, dan RSPO tak bergeming ketika salah satu anggotanya telah melanggar code of counduct dan prinsip dasar dari RSPO atau prinsip dasar dari minyak sawit berkelanjutan. Di propinsi Jambi, dalam kurun tak sampai 1 tahun, 2 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang selama ini sangat konsen dalam mempromosikan minyak sawit berkelanjutan dan menjadi anggota RSPO dan menjadi donor penting dalam event-event dan pertemuan serta perhelatan international mengenai minyak sawit berkelanjutan justru melakukan pelanggaran HAM diareal perkebunannya. PT Kresna Duta Agroindo, sebuah perusahaan dibawah kendali PT SMART melakukan pelanggaran HAM melalui tangan aparat kepolisian pada awal tahun 2011 lalu. Pelanggaran yang dilakukan adalah PT KDA melalui aparat kepolisian melakukan penembakan terhadap 6 orang petani dari Desa Karang Mendapo Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun. Dan walau saat ini telah dilakukan upaya resolusi atas konflik yang telah terjadi sejak tahun 2006, namun penderitaan petani yang tertembak tak terbayar, bayangkan insiden tersebut telah membuat 1 orang masyarakat mengalami cacat permanen.

Lain PT KDA, lain pula yang dilakukan oleh PT Asiatic Persada anak perusahaan Wilmar di Jambi. PT Asiatic Persada mempromosikan minyak sawit berkelanjutan dengan cara menggusur rumah-rumah milik masyarakat SAD Batin Sembilan. Penggusuran yang dilakukan oleh PT Asiatic Persada dengan menggunakan Brimob adalah perbuatan yang melanggar hukum dan melanggar HAM, bayangkan PT Asiatic Persada telah berhasil membuat 83 KK menderita dan kehilangan tempat tinggal, dan tak hanya itu, 83KK kini telah kehilangan sumber penghidupan mereka.

Melihat kelakuan 2 perusahaan yang selama ini mengklaim dirinya sebagai pelaku minyak sawit berkelanjutan, seolah ingin membuka fakta bahwa RSPO dan minyak sawit berkelanjutan yang sering didengungkan oleh RSPO dan anggotanya hanyalah sekedar basa-basi sertifikasi semata.


Leave a Comment