Copyright 2017 - Custom text here

  A. Latar Belakang Desa

 Desa Perigi Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten Ogan Komering Ilir, memiliki sumber daya alam yang cukup dan lahan pertanian cukup luas. Meliputi dua tipe lahan yaitu lahan kering dan lahan rawa lebak, dapat dimanfaatkan untuk budidaya pertanian.

 Dampak perekonomian sekarang ini ditingkat Desa Perigi, cendrung melemah, mengakibatkan pendapatan masyarakat khususnya petani menjadi menurun sehingga menyebabkan melemahnya ketahanan pangan ditingkat desa maupun ditingkat rumah tangga petani.

 Untuk memecahkan masalah tersebut telah dan akan direncanakan pengembangan pertanian (Pencetakan sawah irigasi) salah satu upaya yang bisa berkelanjutan, terencana, juga sebagai rencana pembangunan Desa Perigi seluas : + 12.300 Ha

 

  1. Keadaan Umum Wilayah Desa

 1.       Luas wilayah Desa Perigi : 13.299 Ha

 2.       Batas-batas wilayah Desa Perigi

 a.       Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Siju Kec. Rambutan Kab. Banyuasin

 b.      Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tanjung Kemang Kec. Pampangan Kab.OKI

 c.       Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Rambai Kec. Pangkalan Lampam Kab.OKI

 d.      Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Kebon Sahang Kec. Rambutan Kab. Banyuasin

 

3.       Data Penduduk

 a.       Berdasarkan data terakhir tahun 2015

 Jumlah penduduk : 3.855 jiwa yang terdiri dari

 b.      Jumlah Kepala Keluarga (KK) seluruhnya : 1015 KK

 

4.       Data Luas Lahan

 Luas lahan di Desa menurut data terakhir tahun 2015

 Seluas : 13.299 Ha. Dengan Rincian sbb :

 a.       Ladang (Huma)                                   = 4.000 Ha

 b.      Tegalan                                                 = 40 Ha

 c.       Pekarangan                                         = 2.000 Ha

 d.      Perkebunan Karet Rakyat                 = 3.000 Ha

 e.      Rawa-rawa lebak                                = 2.300 Ha

 f.        Kolam                                                   = 100 Ha

 g.       Sungai                                                  = 200 Ha

 

5.       Potensi lahan pertanian di Desa Perigi dengan rincian sbb :

 a.    Jenis lahan                          = lahan lebak

 b.    Luas lahan                           = 2.300 Ha.

 

                6.      Keadaan Sumber Daya Alam dan manusia

                          1.   Sumber Daya Alam

                                 a.      Tofografi Daerah

                                                 Desa Perigi berada pada ketinggian antara 6 sampai 7 meter  dari permukaan laut (datar, bergelombang, dan rawa lebak)

                                 b.     Jenis tanah terdiri dari podsolit merah kuning (PNK) dan Aluvial

                                   c.      Iklim

                                          Desa Perigi termasuk iklim tife basah dan kering musim hujan pada bulan : Oktober sampai Maret dan musim kemarau pada bulan : Maret sampai Oktober

                           2.   Sumber Daya Manusia

                                 a.      Tingkat Pendidikan

                                          masyarakat Desa Perigi sebagian besar berpendidikan tamatan :

                                          SD / Sederajat                          = 55%

                                          SLTP / Sederajat                      = 20 %

                                          SLTA / Sederajat                      = 15 %

                                          Perguruan Tinggi                    = 10 %

 

                                b.     Mata Pencarian

                                          Mata pencarian penduduk Desa Perigi Kecamatan Pangkalan Lampam sebagian besar adalah perkebunan karet rakyat, pembukaan lading dengan meremajakan tanaman karet yang produktif lagi, tukang kayu / batu, buruh tani, pedagang, PNS, supir truk dan mencari keluar daerah.

 

                7.      Peluang dan Kendala

                          1.   Peluang

                                         Komoditi tanaman yang dapat di kembangkan di Desa Perigi pada lahan lebak sesuai dengan kondisi tanah dan keadaan setempat ialah padi sawah seluas = 2.300 Ha.

                          2.   Kendala

                                 Kendala pengembangan komoditi tanaman padi di Desa Perigi pada lahan lebak, antara lain :

 a.    Kurang modal untuk membuka lahan

 b.   Air tidak mengalir

 c.    Padi di tanam sering karam

 d.   PH Tanah Tinggi

 e.   Ketebalan gambut sangat tebal.

 

                8.      Tujuan

                          Tujuan pengembangan pertanian (pencetakan sawah irigasi) ialah :

 a.    Membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran di Desa Perigi dan mengajak desa tetangga seperti Desa Rambai.

 b.    Meningkatkan penggunaan lahan lebak dengan cara pembukaan lahan yang kurang produktif.

 c.     Meningkatkan pendapatan petani melalui usaha tani padi.

 

SEJARAH DESA

 Desa Perigi Talang Nangka terletak di Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan, menurut cerita tokoh-tokoh adat setempat, bahwa Perigi Talang Nangka dahulu tidak dikenal sebagaimana sebuah desa, tetapi, di kisahkan secara turun temurun pada tahun 1887 wilayah ini di kenal dengan empat wilayah. Masyarakat yang menetap di daerah ini yang pertama rumah borok yang kedua sungai musi yang ketiga talang lame yang keempat lage lalang. Keempat wilayah ini memilik jarak yang berjauhan di pimpin oleh seorang Kerio (yang sekarang disebut kepala desa). Kepemimpin Kerio Mat Namit + 40 tahun. Kemudian dilanjutkan oleh Kerio Parin + 30 tahun. Kepemimpinan berikut pada generasi ketiga oleh Krio Malikin selama + 27 Tahun. Generasi keempat dipimpin oleh Kerio Kaliman selama + 25 Tahun, kemudian pada saat itu masuk Belanda yang dimulai membangun jalan poros yang melewati daerah ini. Jalan poros ini memberikan kemudahan akses perjalan warga untuk melakukan aktivitas ke pusat pemerintahan di Palembang. Kemudian warga masyarakat secara berangsur-angsur melakukan perpindahan di sepanjang jalan pros dengan membangun pemukiman baru untuk memudahkan tranportasi. Perpindahan ini warga masyarakat menjadi satu bagian wilayah pemukiman sepanjang jalan poros. Keadaan ini membuat masyarakat berkumpul dalam satu wilayah pemukiman. Tempat baru ini belum memiliki nama, kemudian Belanda menyebutnya daerah ini dengan perigi dan pohon nangka. Karena wilayah pemukiman bari ini banyak terdapat sumur dan banyak di tumbuhi pohon nangka yang di budidayakan warga. Sehingga nama Perigi Talang Nangka samapi sekarang melekat menjadi nama sebuah Desa Perigi Talang Nangka. Sedangkan perbatasan wilayah Desa Perigi dengan wilayah Kabupaten Banyuasin keterangan dari Kerio Nanguning. Batas dari puncak selabu mudo, tugu arang, kayu ara jajar Sembilan, lebung padang, kuburan cina dan kerupuk sebatang.

Setelah kemerdekaan , pertumbuhan makin pesat, sekitar, sekitar tahun 1987 terjadi perubhahan dari pemerintah kerio menjadi Kepala Desa. Pada tahun yang sama, pemimpin Desa Perigi Talang Nangka dipimpin oleh H. Nanguning + 25 Tahun. Kemudian dilanjutkan oleh kepala desa Arifin, kepala Desa Arifin tidak menyelesaikan masa jabatannya dia hanya memimpin selama 3 tahun, sisa 2 tahunnya dilanjutkan oleh Pjs M. Aris. Setelah habis masa jabatan Pjs melalui pemilihan kepala desa terpilih lagi M. Aris dengan masa jabatan 5 tahun. Ditahun 2009 memaluli pemilihan terpilihlah Kepala Desa Bunawas Jani dampai dengan sekarang tahun 2015.

                 Masyarakat Desa Perigi sejak nenek moyang sudah meakukan kebiasaan melakukan budidaya pertanian tanaman dengan system Sonor. Sonor adalah cara masyarakat melakukan budidaya tanaman pangan padi sawah rawa yang di landasi pengetahuan tentang menghitung pasang surut air rawa gambut. Budidaya ini hanya di lakukan setahun sekali tanam. Cara sonor berdasarkan cerita warga sudah dilakukan sejak lama. Tetapi ingatan warga, pada tahun 1987 sistem sonor masih berjalan sampai saat ini. selain budidaya padi rawa dengan system sonor, masyarakat juga melakukan aktivitas mencari ikan, membudidayakan tanaman karet, budidaya kebun duku, budidaya kebun dure, budidaya kebun rambutan, mencari kayu dan membuat tikar dari batang purun yang menjadi kearipan lokalnya.

                 Sejak masuknya Belanda di wilayah Perigi Talang Nangka, budidaya tanaman karet berkembang. Hampir seluruh warga melakukan budidaya tanaman karet. Hal ini dilakukan warga, karena Belanda memberikan bantuan bibit karet kepada warga. Kepentingan Belanda melalui usaha dagangnya, melakukan pembelian getah karet untuk di perdagangakan kembali eksport dan kebutuhan dalam negeri untuk kebutuhan pabrik-pabrk yang berbahan baku getah karet. Kebun karet sebagai salah satu mata pencaharian pokok warga Perigi Talang Nangka, menurut laporan Kepala Desa sekitar 3.000 hektar luas kebun karet Desa Perigi Talang Nangka. Walaupun akhirnya warga mendapat kendala soal harga getah karet yang terus menurun harganya. Salah satu factor yang mengakibatkan harga turun, Usaha dagang getah Belanda menentukan harga karet, selain itu rantai perdagangan karet semakin banyak dan panjang, ini yang membuat harga getah terus menurun.

                 Dari proses panjang ke empat (4) wilayah pengelolaan warga sebagaimana di ceritakan tersebut diatas, kemudian di tetapkan menjadi wilayah kelola warga masyarakat Desa Perigi Talang Nangka di wilayah kelolan pulau riding, tanjung lubuk, teluk mentaos, pulau pinang, pulau nagadin dengan total luas + 500 hektar menjadi lahan kelolah masyarakat desa Rumah Buruk dan Sungai Musiwaktu itu. Sedangkan desa Talang Lame dan Desa Lage Lalang lahan kelolanya.

               disebut dengan nama Bangsal, pulau mahang, lebung buyut, pulau sepanggil, pulau kubu, pangjao, teluk gede, tanjung merangen, simpang macan tiga yang kemudian ketiga wilayah kelola ini terletak di Desa Perigi Talang Nangka sekarang. Kemudian pada tahun 1995 – 1997 wilayah kelola di atas di masukan kedalam kawasan hutan suaka marga satwa dengan luasan APL 1.172 Ha dan 4.828 Ha lahan masyarakat termasuk di dalam kawasan hutan suaka margasatwa. Sebelum ditetapkan menjadi kawasan hutan margasatwa kawasan ini disebut hutan Marga Pangkalan Lampam. Penetapan kawasan lindung Suaka Margasatwa ini tanpa melakukan konsultasi dan sosialisasi dengan warga masyarakat. Sehingga sampai saat ini, warga masyarakat masih melakukan aktivitas budidaya pertanian gambut dengan system sonor. Dengan status kawasan lindung, sebenarnya warga menolak atas penetapan dan pemasangan patok-patok untuk wilayah Suaka Margasatwa Sugihan.

                 Menurut keterangan warga masyarakat Desa Perigi yang manjadi saksi saat pemasangan patok kawasan Suaka Margasatwa, bahwa pemasangan patok itu sebenarnya bukan di titik yang sekarang di pasang patok, tetapi masih sekitar 2 kilomater lagi. Patok yang di pasang oleh petugas saat itu, waktu itu petugas yang memsang kejeblos di gambut dan tiang patok itu tertanam. Kejadian ini membuat petugas tidak melanjutkan lagi untuk memasang patok di titik sebenarnya (2 km dari tempat petugas yang terjatuh), kemudian petugas ini membuat berita acara dan merubah titik koordinat melalui GPS. Titik yang sebenarnya melainkan itu titik untuk bikin jalur pembuangan air dari sungai tanjung kerang sampai lebung bebek di Desa Riding dua. Namun kenyataannya titik tersebut ditetapkan sebagai batas wilayah kawasan hutan, buruh yang memasang patok bernama Darwin, Ron dkk berjumlah + 25 orang dari desa Siju, Tanjung Kerang dan Sebabi Kec. Rambutan Kab. Banyuasin.

                 Kesaksian petugas pemasang Patok kawasan Suaka Margasatwa : Staf lapangan kehutanan pada masa itu bernama bapak Mumuk meneurut keterangannya pada saat memasang patok masih ada sekitar 2 km dari patok sekarang ke atas titik yang sebenarnya. Pada tahun 1995-1997 tanpa sosialisasi dengan masyarakat sekitar. Kehutanan langsung memasang patok titik kordinat batas wilayah hutan marga satwa. Menurut keterangan buruh pemasang patok pada saat itu mereka tidak mampu membawa patok dengan lasan berat untuk memikulnya jadi mereka meletakkan patok-patok itu sembarangan dipinggir-pinggir kebun karet masyarakat. Dan ternyata batu patok itu dijadikan acuan oleh dinas kehutanan menjadi titik kordinat kawasan hutan margasatwa sampai dengan sekarang.

                 Dalam pengelolaan hutan gambut Kabupaten OKI dan Musi Banyuasin sejak tahun 1981 di berikan hak kelolanya di berikan HPH PT Wijaya Murni yang mendapat operasi penebangan kayu dari menteri kehutanan. Jenis-jenis kayu yang ditebang kayu mahang, kayu ramin, kayu jelutung dlsb sampai akhir tahun 1991. Mulai oprasi PT Wijaya Murni itu sebagian besar berada di wilayah hak pengelolaan sonor warga masyarakat setempat. Jenis tanaman jelutung yang statusnya dilarang penebangannya oleh pemerintah dilakukan penebangan habis dan kemudian merambah ke wilayah kawasan suaka margasatwa yang ditetapkan tahun 1995.

                 Setelah berakhirnya oprasi PT Wijaya, EX HPH PT. Wijaya Murni di peruntukkan kawasan perkebunan kelapa sawit oleh bupati Musi banyuasin dan Bupati OKI, dimana konsesi izin diberikan pada PT PAP dan PT PMS izin ini juga berada di wilayah hak kelola masyarakat. Untuk PT PMS berada di wilayah kawasan suaga margasatwa dan termasuk wilayah kelola masyarakat yang akhirnya izin operasi PT PMS di cabut oleh Bupati OKI atas rekomendasi dan tindakan menteri kehutanan. Namun demikian wilayah kelolaa masyarakat Desa Perigi Talang Nangka dan Rambai masuk dalam kawasan Margasatwa, padahal pada penetapan kawasan itu tidak melibatkan warga masyarakat sekitar.

 Status potensi desa Perigi

  1. Lahan APL 1.171 Ha

 - 609 Ha Banyuasin  ð Rekom bupati Banyuasin

 - 562 Ha OKI              ð Rekom Bupati OKI

 

  1. Hutan 4.829 Ha
  2. Lahan + hutan tidak punya legalitas
  3. Tata niaga karet dikelola bersama

 - Jumlah petani karet

 - Luas kebun

                - Kapasitas produksi

                - Pendidikan kualitas petani

 

  1. Kelompok tani sawah resmikan
  2. Serikat petani karet PPDP
  3. Membuat persyaratan

 - Mendapat SK petani    - sawah    ð pronas  ð    dinas PU

 - Mendapat

 

Partner SETARA

 

 

 

Yayasan SETARA Jambi

Vila Bukit Mayang Komplek Kehutanan Blok F No 13

Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan Alam Barajo

Jambi-36126 0741-5911449

 

Pengunjung SETARA