Copyright 2017 - Custom text here

Beumo merupakan salah satu system pertanian tradisional di Jambi yang hampir punah ditengah-tengah gemerlap sistem pertanian moderen dengan model perkebunan monokultur kelapa sawit. Semangat program pencetakan sawah, optimalisasi lahan dan intensifikasi tanaman dengan penanaman padi 2-3 kali dalam satu tahun dengan penggunaan bibit unggul yang disertai dengan peralatan modern dengan tujuan menyediakan makanan bagi orang kota, hampir melupakan nilai-nilai kearifan local yang terbangun dalam system pertanian tradisional yang dulu pernah menopang kemadirian pangan di propinsi Jambi, salah satu kearifan local tersebut adalah ‘beumo’.

Beumo merupakan salah satu system pertanian warisan nenek-moyang yang memanfaatkan lahan dengan menanam padi dan beragam tanaman pendukung lain disekitarnya. Beumo atau beberapa masyarakat menyebutnya dengan ladang itu, merupakan salah satu media bertani yang terbagi menjadi dua bagian atau dua bentuk berdasarkan tempat dan peruntukannya yakni Umo Renah dan Umo Talang, umo renah adalah lahan pertanian yang kontur tanahnya rata dalam satu hamparan yang cukup luas berada di dekat pemukiman penduduk desa. Umo Renah ditanami padi dan sayuran seperti kacang, timun dll. sedangkan Umo Talang adalah lahan pertanian yang luasnya tergantung berapa berapa besar kesanggupan seorang atau sekolompok dalam pengelolaanya, Umo Talang berada di dalam hutan belukar dan jauh dari pedesaan. Untuk menuju Umo Talang melalui jalan setapak yang dibuat sendiri atau berkelompok (pada umumnya berkelompok). Tanamannya hampir sama dengan umo renah yaitu padi dan tanaman pendukung lainnya seperti jagung, buah-buahan musiman jangka pendek dan sayur-mayur. Biasanya dalam Umo Talang terdapat pondok kecil sederhana yang digunakan sebagai tempat tinggal semetara hingga panen tiba, dan umumnya Umo Talang dibuat berbarengan dengan penanaman karet, beragam tanaman pangan sering ditanam di antara pohon karet maupun ditempat yang berbeda namun berdekatan dengan kebun karet yang baru ditanam.

Beumo, mengandung nilai-nilai sosial dan ekonomi berkelanjutan

System pertanian tradisional semisal ‘beumo’ terbangun bukan semata-mata sebagai cara untuk bertahan hidup, melainkan sebagai tuntutan kemanusiaan dan wujud tanggung-jawab ketika hidup berdampingan dengan alam, sistem pertanian dibangun secara kolektif dengan pemanfaatan lahan yang yang memperhatikan kontur lahan dan pengembangan tanaman sebagai sumber pangan dan ekonomi keluarga. Tanaman karet merupakan tanaman jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan sandang dan sarana pendukung hidup lainnya. Sementara tanaman padi, buah-buahan dan sayur-mayur (yang dikembangkan di Umo) merupa kan benteng terpenuhinya kebutuhan pangan dan untuk ekonomi jangka pendek secara berkesinambungan.

“Dengan beumo setengah hektar bae, selain untuk makan sekeluargo jugo biso dapat duit, rato-rato lima puluh ribu perhari, hari ini panen timun, besok panen kacang panjang, kadang terung atau jagung, cabe, pisang semuo sayo tanam. Lebih enak lagi kalau hasil umo dijual dewek, duitnyo biso lebih banyak, dari bekebun sawit”. Kisah Pak Samsu Baharun, salah seorang petani yang masih mempertahankan Umo Talang di Desa Olak Besar Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batang Hari.

Pak Samsu bersama istrinya beumoh disamping kebun karetnya yang sudah mulai besar. Tempatnya cukup jauh, selain menyebrangi sungai, juga menyusuri jalan setapak di tengah hutan (masyarakat menyebutnya belukar). Pak Samsu berharap akan tetap bisa mempertahankan umonya walaupun karetnya sudah menghasilkan.

Tiga belas tahun silam masyarakat pedesaan masih menjadikan Umo Renah dan Umo Talang sebagai media bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sembari mengembangkan tanaman karet (khususnya wilayah pedusunan mulai dari Muara Jambi, Batanghari sampai kerinci), namun saat ini sistem pertanian dengan model Umo hanya bertahan dibeberapa lokasi saja. Salah satu factor yang membuat Umo tak lagi menjadi pilihan model pertanian adalah ketika model pertanian monokulture seperti perkebunan kelap sawit mulai diperkenalkan oleh pemerintah, dan menjadi jargon kesejahteraan. Banyak Umo kini berganti rupa menjadi kebun kelapa sawit, bukan karena petani yang mengubahnya, tapi karena kebijakan pemerintah yang membiarkan Umo-umo yang dahulu menjadi benteng ekonomi masyarakat sejak lama berganti fungsi menjadi benteng ekonomi dan kesejahteraan bagi pemeritah. Dan petani-petani yang dahulu mengusahakan Umo, kini ber”Umo” di bawah kebun kelapa sawit sebagai pekerja pemungut brondol.

 

 Oleh : Nurbaya Zulhakim

 

Partner SETARA

 

 

 

Yayasan SETARA Jambi

Vila Bukit Mayang Komplek Kehutanan Blok F No 13

Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan Alam Barajo

Jambi-36126 0741-5911449

 

Pengunjung SETARA