Copyright 2017 - Custom text here

“Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke 33”

“Otimalisasi sumber daya lokal, menuju kemandirian pangan” inilah tema yang akan digaungkan pada hari Pangan Sedunia yang akan diperingati oleh Indonesia pada tanggal 24-27 Oktober 2013 di Padang Sumatera Barat.

Sungguh sebuah anomali, dimana hari pangan selalu diperingati setiap tahun, dan tak hanya di Indonesia, bahkan peringatan hari pangan menjadi ritual tahunan organisasi pangan dunia (FAO), tapi masalah pangan dan alih fungsi lahan pertanian bukannya menurun, tapi justru makin tinggi dan makin meningkat dari tahun ketahun. Bahkan menurut Menteri Pertanian Siswono , konversi lahan pertanian setiap tahun lebih dari atas 100.000 hektar. Situasi ini tentu sangat mengkhawatirkan, dimana lahan pertanian yang ada tidak lagi mampu memenuhi pangan penduduk yang jumlahnya mencapai 240 juta orang. Jika beberapa waktu lalu, konversi lahan pertanian menjadi perkebunan besar dan industry besar yang mendominasi konversi lahan, kini bertambah lagi dengan alih fungsi lahan yang dilakukan oleh petani secara mandiri. Dan celakanya lagi, meskipun situasi ini menjadi perhatian bagi banyak pihak, dan bahkan pemerintah, tapi bukannya menjawab persoalan ini dengan tepat, tapi justru dijawab dengan keluarnya kebijakan penyediaan pangan melalui import, yang justru memicu makin ditinggalkannya pertanian pangan.

Kecamatan Batin XXIV adalah sebuah contoh kecil, dimana anomali tersebut terjadi. Kecamatan yang berada di Kabupaten yang sangat getol dalam mengkampanyekan tentang kemandirian dan ketahanan pangan, faktanya berbanding terbalik dengan apa yang telah terjadi. Bayangkan luas Kecamatan Batin XXIV yang hanya sekitar 89.813 Ha, sekitar 52,8 % atau sekitar 42.313 Ha telah berganti rupa menjadi kebun kelapa sawit sawit oleh 6 perusahaan besar kelapa sawit dengan rincian PT SDM seluas 14.500 Ha, PT Dhamasraya 6000 Ha, PT TLS 7000 Ha, PT Kirana Sekernan 5000 Ha, PT Kedaton 7000 Ha dan PT Pratama Agro Sawit seluas 10.000 Ha. Keberadaan perusahaan besar di kecamatan Batin XXIV, tak hanya berpengaruh terhadap makin menurunnya luas lahan pertanian pangan, tapi petani-petani diwilayah ini pun kemudian lebih banyak yang mulai menggantungkan hidupnya pada perusahaan, baiks ebagai petani plasma, maupun sebagai buruh kebun, sehingga sawah-sawah, umo dan bahkan kebun karet banyak yang mulai ditinggalkan dan tidak diolah. Lihat saja, dari luas sawah yang mencapai 1.301 Ha, hanya sekitar 108 Ha yang diolah, sisanya 1193 Ha tidak diolah dan 250 Ha telah beralih fungsi jadi kebun sawit milik perusahaan. Dan tidak menutup kemungkinan, dalam 10 tahun kedepan seluruh sawah yang tak diolah akan menjadi kebun kelapa sawit, baik dalam bentuk plasma maupun dikuasai lansung oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Untuk itu penting untuk segera membuat UU 41 tahun2009 berkerja sampai ketingkat paling bawah yaitu desa, karena jika hanya berharap pada UU tersebut berkerja sendiri, maka kita sedang menunggu bencana kekurangan pangan makin mendekat. Dan membuat UU 41 tahun 2009 berkerja dan terimplementasi haruslah segera didorong melalui Peraturan-peraturan tingkat desa mengenai perlindungan lahan pangan, dan diperkuat dengan pengaturan ruang pangan ditingkat desa. Karena fakta menunjukkan bahwa alih fungsi lahan pertanian oleh petani dengan pola mandiri, meskipun perlahan, namun lebih besar peluangnya untuk mengubah lahan-lahan pertanian menjadi kebun sawit disbanding dengan perusahaan besar. Lagi pula, kebijakan melalaui Perdes itu adalah untuk menghentikan ekspansi perkebunan skala besar yang kini telah pula sampai di lahan-lahan pertanian produktif.

Dibawah ini adalah grafik potensi lahan pangan yang diolah dan tak diolah berdasarkan kecamatan di Kabupaten Batanghari.

 

Ditengah situasi yang buruk diatas, ada pula iniciative petani yang terus bertahan ditengah desakan industry dan desakan alih fungsi oleh petani secara mandiri. Mereka ada sebagian kecil petani sayur, petani padi yang ad adi Desa Karmeo. Dengan gigih mereka mencoba membangun penataan ruang pangan didesa, dan sedang mencoba membangun Peraturan Desa untuk melindungi lahan pangan mereka. Memang tidak banyak yang mereka bisa lakukan, namun paling tidak mereka akan terus mempromosikan bahwa kedaulatan pangan dan kemandirian pangan harus dimulai dari desa. Kalau tidak maka kedaulatan pangan dan kemandirian pangan akan diambil alih oleh industry-industri pangan seperti projek MIFEE di Papua. Dan dalam Hari Pangan Sedunia yang mereka peringati hari ini, semoga bisa menjadi inspirasi bagi petani di Jambi dan di Indonesia, bahwa sudah saatnya kembali menikmati hasil pangan dari lahan sendiri.  

 

 

 

 

Partner SETARA

 

 

 

Yayasan SETARA Jambi

Vila Bukit Mayang Komplek Kehutanan Blok F No 13

Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan Alam Barajo

Jambi-36126 0741-5911449

 

Pengunjung SETARA