Copyright 2017 - Custom text here

Swasembada pangan menjadi salah satu target pencapaian program Jambi Emas tahun 2015, salah satu program yang diyakini mampu mendongkrak peningkatan produksi pertanian tanaman pangan khususunya tanaman padi yakni dengan melakukan cetak sawah hingga mencapai 3000 Ha. Menurut Dinas Pertanian Propinsi Jambi pada bulan februari lalu telah dilakukan identifikasi lahan seluas 2.400 Ha, dan dalam waktu dekat akan segera diproses. Dana program cetak sawah dialokasikan dari Bansos Pusat ini cukup besar yakni sekitar 100 M. (Antara Pos 25 Januari 2012).

ini, dimana sektor pertanian tanaman pangan menurun bukan karena lemahnya produksi akibat kurangnya lahan, akan tetapi karena terjadinya pergeseran budaya pertanian dari tanaman komodity multikultur menjadi monokultur. Tanaman pangan hanya dinilai dari sudut pandang ekonomi saja, tidak lagi dianggap sebagai benteng ketahanan dan keamanan pangan keluarga, sehingga padi tak mampu bersaing dengan tumbuhan komodity lainnya yang secara ekonomi jangka pendek memang jauh lebih menggiurkan. Disamping itu pemerintah juga belum mampu membentengi potensi produksi pertanian local sebagaimana dengan pemerintah Tailand; selain memberikan bantuan teknis dalam peningkatan produksi, pemerintah Tailand juga memberikan harga subsidi terhadap hasil petani local dan mengontrol pemasarannya sehingga petani mendapatkan nilai jual yang cukup tinggi dan masyarakat luas pun mampu membeli dengan harga terjangkau. Maka yang diperlukan saat ini adalah penata-kelolaah pertanian pangan dan hortikultura, mulai dari peningkatan kesadaran petani tentang perlindungan lahan pertanian, pengembangan budidaya tanaman yang disesuaikan dengan kondisi alam saat ini, hingga jaminan pasar yang di dalamnya mengatur subsidi harga produksi petani dan alur perdangan beras dan sayur-mayur. Dengan jaminan tersebut harapannya masyarakat kembali bersemangat untuk mengelolah lahan pertanian pangan yang selama ini dibiarkan terbengkalai, seperti yang terjadi di Kab. Batanghari, Muara Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung-Jabung Barat dan kabupaten lainnya yang konon disebut pernah mencapai swasembada pangan.

Mungkinkah Cetak Sawah Dialihkan Menjadi Program re-Spirit Petani?

Sebelum membuat keputusan program yang berkenaan dengan kepentingan publik atas ketahanan dan kedaulatan pangan alangkah baiknya jika terlebih dahulu dilakukan identifikasi sawah secara konperehensif, idealnya data pertanian pangan tidak hanya memuat klasifikasi luas tanam dan luas panen (sebagaimana yang terdapat dalam data BPS), tapi juga mencantumkan data luas lahan potensi sawah, sawah tinggal dan sawah yang telah beralihfungsi, sehingga luas kalsifikasi lahan diketahui secara keseluruhan (dengan catatan pendataan dilakukan sesuai dengan kondisi real, bukan karena ABS ‘Asal Bapak Senang), harapannya data yang tepat dapat menciptakan rencana yang tepat pula bagi upaya pengembangan sektor pertanian tanaman pangan.

 

Dari hasil studi Yayasan SETARA yang dilakukan di Kabupaten Batanghari menunjukkan bahwa luas sawah tinggal terus bertambah dari tahun ke tahun, hinga tahun 2011 ditemukan sawah tinggal mencapai hingga 9895 Ha, tentu kondisi ini akan menjadi tantangan besar bagi Kabupaten Batang Hari dalam pencapaian target swasembada beras tahun 2015. Phenomena meningkatnya luas sawah yang ditinggal penggarapnya tidak hanya terjadi di Kabupaten Batanghari tapi juga di kabupaten lainnya, termasuk kabupaten yang selama ini menjadi penghasil padi terbanyak. Artinya penurunan produksi padi bukan karena terbatasnya lahan kelolah akan tetapi menurunya spirit untuk mengelolah lahan pertanian padi karena berbagai persoalan; mulai dari tantangan anomaly cuaca ekstrim yang tak terprediksi, hama tak terkendalikan, banjir dan kemarau yang tak terelakkan hingga akses pasar yang belum juga terjaminkan. Mungkinkah kondisi dan situasi tersebut dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk mengalihkan program cetak sawah menjadi program yang lebih mempreoritaskan upaya untuk menjawab persoalan-persoalan dasar yang selama ini menjadi pemicu menurunya spirit petani untuk mengolah lahan pertaniannya. Harapannya pengelolaan lahan yang baik akan menghasilkan produksi yang baik, dengan produksi dan jaminan pasar yang baik (termasuk subsidi harga atas produksi petani local) akan menghantarkan petani pada semangat yang besar menuju kedaulatan pangan dimasa datang, kalau tidak sungguh bukan hal mustahil bahwa cetak sawah justru hanya akan menambah jumlah luas sawah tinggal dimasa datang.

 

Ditulis oleh : Nurbaya Zulhakim, Div. Lobby Kebijakan dan Kampanye Publik SETARA-JAMBI

 

 

 

Partner SETARA

 

 

 

Yayasan SETARA Jambi

Vila Bukit Mayang Komplek Kehutanan Blok F No 13

Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan Alam Barajo

Jambi-36126 0741-5911449

 

Pengunjung SETARA