Copyright 2017 - Custom text here

Defisit Beras dan Penghargaan ketahanan pangan untuk propinsi Jambi

Propinsi Jambi sepertinya tak pernah absen untuk mendapatkan penghargaan bergengsi tingkat nasional, bayangkan tanggal 4 Desember 2010 lalu propinsi Jambi kembali mendapatkan penghargaan bergensi yakni penghargaan Ketahanan pangan tingkat nasional.

Berarti propinsi Jambi telah 5 kali mendapatkan penghargaan serupa, dan bisa dibayangkan apa yang terfikir dalam benak kita, Propinsi Jambi telah lolos dari bayang-bayang kerawanan pangan, propinsi Jambi jauh meninggalkan propinsi-propinsi lainnya dalam hal ketahanan pangan.

Tapi belum lagi hilang luapan kegembiraan karena penghargaan tersebut, bak tamparan keras, data membuktikan bahwa propinsi Jambi, ternyata devisit beras! Catatan ini terekam dalam beberapa catatan media 2 hari terakhir ini. Pemerintah propinsi Jambi perlu mengkaji ulang terkait dengan indikator surplus dan indikator ketahanan pangan, karena justru data-data yang dikeluarkan pemerintah ternyata tidak bisa menjadi pegangan bahwa memang propinsi Jambi memiliki tingkat ketahanan pangan yang tinggi. Bayangkan beberapa waktu lalu, kepala Dinas Pertanian propinsi Jambi selalu menyatakan bahwa propinsi Jamb surplus beras mencapai 47.896 ton, tapi setelah dilakukan penghitungan secara detail ternyata propinsi Jambi defisit sekitar 58,215 ton (Jambi ekspres, 15 Desember 2010).

Tak adanya perhatian, tak adanya perlindungan areal lewat Tata ruang dan tak adanya perlindungan terhadap komoditas pangan menjadi pemicu bencana kerawanan pangan di propinsi Jambi. Yayasan SETARA mencatat bahwa terus menurunnya kuantitas lahan sawah dipropinsi Jambi dipicu oleh tidak adanya ruang yang jelas bagi areal-areal sawah terutama dalam Tata Ruang propinsi dan bahkan dalam RTRW yang sedang dibahas oleh pemerintah saat ini, bukan itu saja, hingga saat ini propinsi Jambi tidak memiliki peta areal-areal pertanian. Ruang pertanian berupa sawah diletakkan diareal yang juga diperuntukkan untuk areal perkebunan. Tak heran jika banyak sawah yang berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Contoh paling dekat adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sekitar 50% lahan pertanian berupa sawah atau sekitar 15.000 Ha telah berganti menjadi kebun kelapa sawit (Jambi Expres Februari 2010). Menurut catatan Yayasan SETARA yang saat ini konsent dalam issu perkebunan besar kelapa sawit dan pangan, menemukan bahwa dari 185.438 Ha areal-areal pertanian pangan berupa LU1 sekitar 75% telah berubah menjadi kebun kelapa sawit. Jadi tak heran jika temen-temen di Fraksi Gerakan Keadilan menyatakan dibeberapa meida dalam 2 hari terakhir ini bahwa propinsi Jambi devisit beras.

 

Grafik penurunan sawah dan peningkatan kebun sawit

 

Surplus beras atau hanya surplus lahan pertanian?

Luas kawasan pertanian di propinsi Jambi hingga tahun 2009 mencapai 154.788 Ha, meningkat sebesar 11.754 Ha dalam setahun. Dari luas tersebut, benarkah seluruh kawasan berfungsi layaknya kawasan pertanian pangan? Atau justru kawasan terus meningkat tapi areal tanam justru terus menurun? Mari kita analogikan dengan kawasan hutan. Luas kawasan hutan berdasarkan Peta Paduserasi Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jambi sebagaimana dituangkan dalam SK Gubernur Nomor 108 Tahun 1999 kawasan hutan di propinsi mencapai 2.179.440 hektar. Memang sangat luas, bayangkan hampir 42% dari luas total propinsi adalah kawasan hutan, tapi apakah kawasan hutan tersebut masih bisa disebut sebagai kawasan hutan yang berhutan? Tentu tidak, karena dalam catatan kami juga bahwa kawasan hutan tersebut pun telah banyak aktifitas non hutan didalamnya, seperti perkebunan kelapa sawit, aktifitas pertambangan dan bahkan pemukiman. Begitu juga dengan kawasan pertanian pangan, jumlahnya sungguh pantastis, tapi benarkah kawasan pertanian pangan tersebut memang ditanami dengan tanaman pangan? Atau justru telah beganti menjadi tanaman kelapa sawit.

Jika sudah begini, sepertinya tak layak Jambi dapat penghargaan ketahanan pangan tingkat nasional. Jika penghargaan tersebut hanya untuk menutupi buruknya rencana strategis tentang ketahanan pangan di propinsi Jambi.

 

 

 

 

Partner SETARA

 

 

 

Yayasan SETARA Jambi

Vila Bukit Mayang Komplek Kehutanan Blok F No 13

Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan Alam Barajo

Jambi-36126 0741-5911449

 

Pengunjung SETARA