Harga Karet Turun Drastis, Sembako Naik Dramatis Dan Petanipun Menangis;

By Yonna Ferdiansyah 09 Mar 2020, 13:31:31 WIB Produk Akses Pasar
Harga Karet Turun Drastis, Sembako Naik Dramatis Dan Petanipun Menangis;

Kalau Petani Berdaya dan Tata Niaga Adil, Masa-masa Krisis Bisa Dihindari.   

 “Hargo getah turun, sembako lah naek pulo, tambah saro lah hidup iko”, kalimat ini memang paling tepat diucapkan oleh Pak Dauri (petani karet asal Batanghari) untuk mengambarkan kegalaun hatinya saat ini, selain disebabkan berkurangnya hasil panen karena musim penghujan pada akhir-akhir ini, kondisinya juga diperparah oleh anjloknya harga jual karet dari Rp.15.000 menjadi Rp.8000 (harga jual petani dilapangan), dia tak punya penghasilan lain kecuali dari 3Ha kebun karet miliknya yang selama ini dia potong sendiri. Selain berfikir keras untuk dapat mencukupi kebutuhan pangan keluarganya, Pak Dauri juga harus memutar otak untuk dapat membiayai dua anaknya yang akan melanjutkan sekolah ke tingkat pertama dan menengah pada tahun ini. Salah satu usahanya adalah mengajukan pinjaman kepada toke atau tengkulak tempat menjual getahnya selama ini. Tentu hutang ini akan terus bertambah dan menumpuk hingga memasuki lebaran dua bulan akan datang. Pak Dauri tak berani membayangkan jika cerita kawan-kawan seperjuangannya sebagai petani yang mengatakan bahwa ada kemungkinan harga karet akan terus turun hingga harga Rp. 5000/Kg akan menjadi kenyataan. Untuk mengurangi beban hidupnya, dalam beberapa hari ini keluarga Pak Dauri mengkonsumsi sayur tanaman pekarangan hasil kerja istrinya dan ikan hasil pancingan kedua anaknya. Tentu terdapat banyak keluarga petani yang saat ini terpaksa mengencangkan ikat pinggang untuk beradabtasi dengan situasi ini. Harap-harap cemas menghadapi serangkaian kegiatan yang justru membutuhkan dana besar; tahun ajaran baru anak sekolah, Ramadhan dan perayaan Idul Fitri 1433 H yang bertepatan dengan Agustus akan datang.              

Seharusnya petani berdaya

Baca Lainnya :

karet merupakan tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghidupan mayoritas masyarakat di berbagai daerah di Propinsi Jambi khususnya di wilayah Jambi bagian barat. Meski telah kerap kali berhadapan dengan situasi dimana harga karet tiba-tiba anjlok drastic selalu bertepatan dengan melambungnya harga kebutuhan pokok dipasaran, tapi pihak berwenang terkait belum juga menemukan satu kebijakan atau sistem yang dapat mengantisipasi atau minimal solusi untuk meringankan beban mayoritas petani. misalnya mengatur kesediaan bahan pangan atau sembako di saat-saat mendekati hari besar nasional, tingginya permintaan pasar tidak dimanfaatkan oleh spekulan sehingga harga kebutuhan pokok menjadi langka dan mahal.  

Demkian halnya dengan tata niaga industry karet, sama sekali belum memperhatikan upaya kesejahteraan petani, keterbatasan sumberdaya petani seharusnya bisa ditingkatkan untuk mengetahui standar pengelohan karet yang baik agar petani bisa mengasilkan karet berkualitas dan sistem pemasaran yang adil bagi mereka, sebagaimana yang terkandung dalam Permentan No. 38 tahun 2008 tentang pedoman pengolahan dan pemasaran bahan olahan karet. Jika kebijakan ini dapat direalisasikan secara optimal tentu pendapatan petani karet akan meningkat. Lihat saja saat ini, yang sering kita dengar harga karet dipasaran bisa menembus harga Rp.30.000/Kg bahkan pernah lebih, namun harga tertinggi di petani hanya mencapai Rp.15.000-Rp.17.000/Kg. artinya terdapat hampir 50% hasil keringat petani yang menguap disepanjang jalur distribusi niaga karet. Satu-satunya alasan pembenaran yang sering diungkapkan adalah harga jual petani rendah karena kualitas karetnya tidak baik, mengadung banyak air dsb, namun belum pernah ada upaya untuk membantu agar kualitas karet petani menjadi lebih baik sehingga layak untuk dihargai lebih tinggi. Andai ini bisa terwujud, masa-masa sulit jika sewaktu-waktu terjadi anjlok karena krisis di Negara konsumen seperti saat ini tentu petani tidak terlalu merugi.

 

Ditulis oleh : Nurbaya Zulhakim (baya@setarajambi.org)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment