header-int

Membangun inisaitf Bisnis Kecil Dari Desa

Senin, 15 Apr 2019, 11:38:48 WIB - 8 View
Share
Membangun inisaitf Bisnis Kecil Dari Desa

  1. Berawal dari upaya proteksi areal pangan dari ancaman alihfunsi

Kabupaten Batanghari terletak di bagian Timur Provinsi Jambi,  memiliki luas wilayah 5804,83 KM2 Dengan jumlah penduduk 241.334 Jiwa.

Sebagai besar masyarakat tinggal di wilayah pedesaan dengan menjadikan pertanian sebagai sumber penghidupan utama. Komoditas pertanian yang dikembangkan adalah karet dan kelapa sawit. Dengan perbandingan gambaran luasan area sebagai berikut :

Kelapa sawit : 90.455,57 ha Hektar [i] 

Karet : 75.148 hektar

Sawah : 8500 Hektar (dan sebagian dari luas ini telah beralihfungsi menjadi kelapa sawit, karet dan pemukiman).

Selain mengembagankan perkebunan karet dan kelapa sawit, beberapa desa juga masih mempertahankan pertanian pangan, berupa padi, singkong, buah-buahan ataupun sayur mayur yang berusia pendek. Meskipun pada dasarnya kegiatan pertanian pangan dipertahanakan dan dikembagkan untuk kebutuhan kosumsi keluarga, namun saat ini di beberapa kelompok tani mulai terbangun kesadaran pengembangan pertanian tidak hanya bertujuan untuk konsumsi keluarga akan tetapi juga menjadi target penambahan pendapatan ekonomi keluarga. Misalnya dengan memperbaiki budidaya, meningkatkan produksi dan membangun akses pasar.

selain pertanian pangan usia pendek (crop) masyarakat juga berupaya mempertahankan tanaman buah tahunan musiman seperti Durian, Duku, Manggis, Rambai, Cempedak  dan buah local lainnya. Meskipun dalam lima tahun terakhir buah local yang secara umum masih merupakan tanaman warisan mengalami banyak penurunan populasi karena serangan hama yang belum diketahui penyebab dan cara penanggulangannya seperti durian dan duku. Pada tahun lalu di Kabupaten Batanghari ditemukan lebih dari 300 pohon duku yang tiba-tiba mati dengan gejala yang sama di banyak desa.

Pada tahun 2015, kelompok masyarakat dari tiga desa di Kecamatan Mersam Kabupaten Batanghari telah berhasil untuk mendorong pemerintah kabupaten Batanghari membentuk Peraturan Daerah perlindungan lahan pertanian pangan yang terbangun atas gejolak petani akibat diterbitkannya izin perkebunan seluas 900 Hektar di atas lahan pertanian pangan masyarakat, upaya ini berhasil dilakukan setelah proses panjang yang dimulai dari adanya penolakan petani terhadap izin perkebunan kelapa sawit swasta di wilayah tersebut.

Munculnya kesadaran tentang ancaman dan bahaya alihfugsi lahan pangan menjadi kelapa sawit ataupun peruntukan lain sedikit banyak telah mempengaruhi desa-desa lain dan pemerintah level kabupaten untuk mulai menerapkan prinsip kehati-hatian dalam melakukan penerbitan izin perkebunan, dengan satu langkah baik dengan melibatkan Dinas Pertanian Pangan sebagai pihak yang melakukan verifikasi areal sebelum izin diterbitkan. Kebijakan ini cukup signifikan menekan terjadinya alihfungsi lahan pertanian pangan menjadi kelapa sawit ataupun peruntukan lain di Kabupaten Batanghari.

 

  1. Merintis usaha kecil berbahan pangan untuk meningkatkan sumber penghidupan

Tiga desa di Kabupaten Batanghari telah melakukan beberapa upaya proteksi, produksi dan distribusi pada sektor pertanian pangan, melakukan proteksi dengan menerbitkan peraturan desa perlindungan lahan pertanian pangan, meningkatkan produksi dengan melakukan upaya perbaikan tata kelola lahan dan budidaya dan membangun system penjualan hasil pertanian dengan cara berkelompok lalu menyasar konsumen tanpa melalui perantara (toke).

  1. Petani menyasar konsumen untuk memilih dan mencintai beras local

Di Desa Terusan dan Pasar Terusan memiliki sawah seluas 1000 Hektar, secara tradisi masyarakat melakukan kegiatan pertanian padi dengan turun-temurun, sehingga muncul istilah “Malu membeli beras” dengan menjaga tradisi ini seluruh masyarakat desa Pasar Terusan dan Terusan mengembangkan lahan pertaniannya secara tradisonal, dengan menggunakan bibit local dan tidak bergantung pada supply pupuk dan bahan kimia. Namun sayangnya beras dari sawah yang luas tidak ditemukan di pasaran, karena selain mempunyai jargon “Malu membeli beras”, petani juga memiliki pemahaman ”Pantang menjual beras” menjual beras sama dengan menunjukkan bahwa kita miskin, sementara petani mempunyai kebun karet sebagai sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan pokok lainnya seperti sandang, pakaian dan pendidikan. Baiknya tradisi ini karena meyakini bahwa dengan bertani padi kita tidak akan pernah kelaparan karena selalu tersedia padi dan beras di setiap rumah-rumah warga, akan tetapi sisi negatifnya adalah pertanian pangan tidak dilihat sebagai salah sumber pendapatan yang potensial untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu dengan proses edukasi cukup panjang, dan terjadinya penurunan harga karet petani dalam waktu yang cukup panjang, sedikit banyak telah membangun kesadaran sebagian petani untuk menjadikan sektor pertanian pangan sebagai alternative sumber pendapatan untuk meninkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Dimulai tahun 2017 kelompok tani PinangSetingkil Desa Pasar Terusan telah melakukan penjualan beras local, dengan menyasar konsumen perkotaan dan perusahaan yang berada tidak jauh dari desa, mengapa masyarakat perkotaan, karena meskipun beragam besar dari berbagai daerah telah tersebar luas dengan beragam jenis dan merk akan tetapi tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat perkotaan mulai terbangun untuk memilih menngkonsumsi beras sehat tanpa pemutih dan pengawet, dengan kemajuan masyarakat perkotaan harapannya dapat mendukung petani local dengan membeli dan mencintai beras local produk petani Kabupaten Batanghari. Selain itu juga sasaran awal adalah kalangan pemerintah dan kelompok masyarakat civil. Dengan upaya ini, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berpihak kepada petani dengan membeli prodaknya diharapkan mampu meningkatkan semangat petani, tentu tidak hanya petani di Kabupaten Batanghari, tapi juga petani di seluruh wilayah propinsi Jambi untuk terus mengembagkan lahan dan meningkatkan produksi berasnya karena telah menjadi incaran dan andalan masyarakat Jambi.  

  1. Mengolah Durian menjadi Tempoyak, mengolah Tempoyak menjadi makanan local pilihan masyarakat

Durian merupakan salah satu tanaman local, buah-buahan yang berbuah musiman yang cukup banyak di Kabupaten Batanghari. Jika pada musim buah, durian akan ditemukan banyak sekali di pedesaan sampai perkotaan dengan harga yang murah. Masyarakat Jambi mengenal durian tidak hanya  sebagai buah yang dapat dikomsumsi secara langsung, akan tetapi masyarakat Jambi juga mengenal durian dalam bentuk olahan yang disebut dengan Tempoyak, yaitu pregmentasi buah durian yang dapat digunakan sebagai bahan untuk memasak ikan dan lauk pauk. Selama ini menu masakan Tempoyak telah ada di beberapa rumah makan khususnya rumah makan khas Jambi. Untuk membuat Tempoyak mudah diproleh akhirnya dibangun inisiatif pengolahan tempoyak kemasan oleh kelompok perempuan Desa Simpang Karmeo. Dengan membuat prodak sambal tempoyak ikan teri dan bumbu instan tempoyak yang dikemas secara praktis dengan merk Tempoyak Karmeo. Usaha kecil tempoyak ini telah mendapatkan legalitas dagang dalam bentuk P-IRT dan Sertifikat Halal MUI.

Tempoyak Karmeo telah menjadi produk local yang diakui oleh pemerintah, selalu tampil dalam setiap event pestival ataupun basar pameran yang dilakukan oleh pemerintah ataupun pihak swasta, telah mulai dikenal di beberapa kalangan masyarakat, khususnya perkotaan provinsi Jambi dan telah diperkenalkan untuk menjadi salah satu pilihan makanan oleh-oleh.

Usaha kecil tempoyak ini telah memproduksi tempoyak rata-rata 70-100 botol setiap bulannya, dengan harga bervariasi Rp. 25.000 dan Rp. 35.000.

  1. Memanfaatkan musim banjir dengan mengolah ikan musiman menjadi kerupuk

Banjir adalah satu musim secara rutin terjadi di bebebapa wilayah pedesaan, setiap musim banjir selalu berlimpah ikan sungai sehingga

tidak habis untuk dikonsumsi, oleh karena itu kelompok ibu-ibu desa Pasar Terusan berinisiatif mengolah ikan segar endemic sungai ini untuk dioleh menjadi kerupuk yang gurih. Sayangnya kerupuk yang telah dipasarkan dengan harga terjangkau sedikit mengalami kendala jika musim banjir berakhir, karena kelompok usaha kecil harus membeli ikan dengan harga lebih tinggi sehingga mendapatkan keuntungan yang jauh lebih sedikit dibandingkan pada musim ikan banjir. Kelompok Mok Pik dapat mampu meraih omset hingga 5-7juta setiap bulannya pada musim banjir. Usaha kecil ini merupakan usaha sampingan selain sebagai petani karet dan petani padi. Kegiatan usaha ekonomi kecil ini dirasakan sangat membantu penghidupan keluarga.

  1. Ringkasan dan Rencana Tindak Lanjut

Pada dasarnya upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian pangan dan mendorong inovasi untuk usaha kecil dilakukan sebagai upaya untuk menggali potensi SDA yang tersedia di tengah-tengah masyarakat agar terbangun kesadaran bahwa sesungguhnya terdapat banyak sekali potensi pertanian yang dapat dikembangkan untuk menjadi sumber pendapatan masyarakat pedesaan, tidak hanya kelapa sawit, seperti yang selama ini banyak diyakini. Dengan terbukanya pemikiran untuk menggali dan mengembangkan sektor pertanian dengan ragam komoditas diharapkan terciptanya penataan ruang kelola yang beragam dan seimbang. Karena desa adalah sejatinya adalah tempat sumber tanaman, baik pertanian pangan maupun perkebunan. Saatnya membangun keterhubungan antar petani sebagai produsen dengan masyarakat luas sebagai konsumen tanpa ada jarak pembatas, rantai pasok yang panjang yang selama ini menjadi gape antar petani dan konsumen, sehingga tercipta marjin keuntungan yang tinggi yang hanya berpihak kepada pengusaha pemilik modal. Dengan terbukanya pintu, terjalinnya hubungan relasi yang baik antar produsen dan konsumen secara langsung khususnya dalam komoditas produk pertanian pangan, harapannya terbangun keselarasan, petani mampu memproduksi pangan yang sehat dan berkualitas  sesuai kebutuhan konsumen dengan harga yang baik dan masyarakat selalu konsumen mudah mendapatkan kebutuhan pangannya dengan kualitas dan harga yang terjangkau. Tentu tidak lah muda akan tetapi dengan inisatif kecil yang dilakukan oleh banyak orang secara konsisten tentu akan bermuara kepada perbaikan tataniaga dan tata kelola SDA yang lestari.

Karena usaha kecil yang dibangun berangkat dari hasil identifkasi potensi SDA yang tersedia dengan cara sederhana, karena itu kedepan dibutuhkan peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan atau produksi pangan yang sesuai standar pengolahan makanan, juga dibutuhkan peningkatan kapasitasn dalam strategi pemasaran dan managemen usaha yang baik. Sehingga usaha kecil benar-benar dapat berkembang dengan hasil yang signifikan dan menjadi contoh bagi banyak kelompok masyarakat lainnya.

 

[i] Data Dinas Perkebunan Kabupaten Batanghari tahun 2018

Unidha Yayasan Setara Jambi adalah Lembaga Non Pemerintah (NGO) yang berkedudukan di Provinsi Jambi, lembaga ini didirikan pada bulan Mei 2007. Yayasan Setara Jambi terdaftar di Akte Notaris Indra Kurniawan Harahap, SH No.10 Januari 2011, terdaftar di Menteri Hukum dan HAM No. AHU-3568.AH.01.04.tahun 2011.Dalam menjalankan kegiatan, kami mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga donor, yaitu HIVOS, Misereor, Solidaridad, IDH, RSPO serta sumbangan lain yang tidak mengikat.
© 2019 Yayasan Setara Jambi Follow Yayasan Setara Jambi : Facebook Twitter Linked Youtube