header-int

Ketika lahan sawah lebih bernilai dibanding kebun sawit

Jumat, 26 Apr 2019, 10:01:58 WIB - 201 View
Share
Ketika lahan sawah lebih bernilai dibanding kebun sawit

  

Lahan pertanian di Kecamatan Bungaraya khususnya sawah dulunya sempat alih fungsi menjadi kebun sawit. Namun, kini banyak masyarakat yang merubahnya kembali menjadi sawah. Hal ini terjadi karena dulu masyarakat berpikir bahwa kebun sawit itu lebih menguntungkan.

Keterangan foto : kondisi lahan sawah yang berdampingan dengan kebun sawit di Kampung Kemuning Muda Kec. Bungaraya Kab. Siak Sri Indrapura

Pemerintah Kab. Siak sendiri telah mengeluarkan Peraturan Bupati Siak Nomor 22 Tahun 2018 tentang Siak Kabupaten Hijau, disebutkan pada Pasal 6 ayat (2C) yang berbunyi “zona perkebunan dan kehutanan meliputi semua kecamatan se-kabupaten Siak kecuali kecamatan Bungaraya, Sabak Auh”. Hal ini dapat diartikan bahwa lahan pangan di Kecamatan Bungaraya tidak boleh dialih fungsikan menjadi kebun sawit.

Sosialisasi Perbup “Siak Kabupaten Hijau” telah sampai ke masyarakat tingkat Kampung (desa) sehingga banyak masyarakat telah mengembalikan fungsi lahan dari kebun sawit ke lahan pangan. Seacara tidak langsung dengan adanya perbup ini, membuat harga lahan sawah di Kec. Bungaraya untuk satu hektar mencapai Rp. 300 juta, sementara sawit hanya berkisar Rp 100-150 juta.

Dukungan Pemerintah Siak juga sangat intensif ke lahan pangan dengan membuat pompanisasi untuk pengairan. Baru-baru ini tanggal 16 januari 2019, pompanisasi yang dibuat di Kec. Bungaraya diresmikan oleh Bapak Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman sekaligus membuka acara panen raya padi sawah di Kecamatan Bungaraya.

Keterangan foto : Peresmian pompanisasi dan pembukaan panen raya di Kec. Bungaraya oleh Bapak Luhut Binsar Pandjaitan (16/01/2019)

Pertanian pangan khususnya padi sawah sangat didukung oleh pemerindah daerah di Kecamatan Bungaraya. Tak hanya itu, hasil panen padi juga sudah sangat jelas akses pasarnya. Gabah hasil panen di Kec. Bungaraya selalu habis diborong oleh toke-toke beras luar daerah seperti Medan, Pekanbaru dan Padang. Ketika musim panen tiba banyak truk barang dari luar daerah yang dating, untuk mengangkut hasil panen padi. Tak hanya melalui pengusaha atau toke dari luar tapi petani juga jual gabah pada penampung yang memberi mereka modal untuk usahatani.

Kehadiran toke-toke luar memang sangat membantu petani dalam pemasaran hasil panen padi, namun disisi lain juga ada kerugian yang dialami. Salah satunya adalah desa, karena toke-toke tersebut masuk tanpa ada memberikan kontribusi terhadap desa. Sebenarnya ini merupakan sebuah peluang jika kita bersama-sama dengan petani dan stakeholder terkait untuk mensiasati rantai pasok saat ini demi keuntungan kita bersama, Salah satu keuntungannya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) dan pendapatan untuk kelompok tani.

Keterangan foto : Panen padi sawah dengan mesin combine harvester di Kampung Jayapura Kec. Bungaraya

Pemasaran hasil panen padi di Kecamatan Bungaraya menjadi sebuah fenomena tersendiri. Gabah dihasilkan disini, namun beras merk lain yang beredar. Sebenarnya ada beberapa kampung yang sudah memiliki merk beras sendiri, seperti beras “sumber rejeki” yang merupakan beras kemasan lokal Kampung Bungaraya, ada juga beras siak “kota istana” yang diproduksi perkumpulan gapoktan pangan Kec. Bungaraya, beras super “Mulia Tani” diproduksi oleh Gapoktan Mulia Tani Kampung Jayapura.

Pemasaran beras kedepan diharapkan setiap kampung memiliki merk beras sendiri sehingga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD). Untuk merk beras lokal sebenarnya sudah pernah dilakukan pendampingan oleh NGO Yayasan Setara Jambi – Perkumpulan Riau Hijau di Kampung Bungaraya agar memiliki kemasan sendiri. Merk beras dengan cap “Bungaraya” sudah didaftarkan di Dinas Koperasi & UKM Kab. Siak dari bulan September 2018 namun hingga sekarang bulan April 2019 merk tersebut masih dalam proses pelegalan. Proses perizinan saat ini tergolong lama, semoga ke depan pemerintah daerah lebih intens dan cepat dalam membantu masyarakat baik itu perizinan ataupun hal lain.

 

Penulis : Tri Ariyanto

  

Unidha Yayasan Setara Jambi adalah Lembaga Non Pemerintah (NGO) yang berkedudukan di Provinsi Jambi, lembaga ini didirikan pada bulan Mei 2007. Yayasan Setara Jambi terdaftar di Akte Notaris Indra Kurniawan Harahap, SH No.10 Januari 2011, terdaftar di Menteri Hukum dan HAM No. AHU-3568.AH.01.04.tahun 2011.Dalam menjalankan kegiatan, kami mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga donor, yaitu HIVOS, Misereor, Solidaridad, IDH, RSPO serta sumbangan lain yang tidak mengikat.
© 2019 Yayasan Setara Jambi Follow Yayasan Setara Jambi : Facebook Twitter Linked Youtube