Friday, 23 Jul 2010
Masyarakat Jambi saat ini dihadapkan dengan harga sejumlah kebutuhan pokok yang meningkat tajam pada akhir-akhir ini antara lain ; cabe, beras, ayam dan bawang putih. Dan diperkirakan harga ini akan terus meningkat hingga beberapa bulan kedepan, bertepatan dengan bulan puasa, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Harga beras Belido naik hingga 15 persen, dari Rp. 128.000/20 Kg naik menjadi Rp. 150.000/20 Kg (hasil pemantauan di salah satu swalayan pada Hari Rabu, 21 Juli 2010). Tentu ini bukan kali pertama terjadi, karena hampir setiap tahunnya kita ditemukan dengan saat-saat dimana harga beras dan sayur-mayur mendadak tidak stabil. Hanya kali ini kemungkinan akan lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya karena melonjaknya harga bahan-bahan pokok telah mulai terjadi satu bulan menjelang bulan puasa. Keterbatasan persediaan kebutuhan pokok dipasaran adalah faktor utama yang mengakibatkan melonjaknya harga. Dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi persoalan adalah berkurangnya persediaan bahan-bahan pokok dipasaran, lantas apa yang menyebabkan minimnya atau terbatasnya ketersediaan bahan-bahan pokok tersebut? Pertama: hasil produksi pertanian menurun drastis dalam satu tahun terakhir sementara kost produksi meningkat, kedua : anomali cuaca (perubahan tak menentu) dan hama penyakit, kekeringan dan banjir mengakibatkan petani mengalami gagal panen. Ketiga : menurunnya motivasi petani untuk tetap mempertahankan dan menggarap lahan pertaniannya. Hal ketiga ini tentu diakibatkan oleh persolan-persoalan di atas (hal pertama dan kedua).
Saat ini serangkaian persoalan di atas tidak hanya terjadi di Propinsi Jambi tapi juga di daerah lain di Sumatera bahkan Pulau Jawa. Sementara kebutuhan konsumen akan bahan-bahan pokok pangan dan hortikulura/sayuran selama ini tidak terpenuhi dari hasil produksi pertanian lokal melainkan sebagian besar bergantung pada pasokan daerah lainnya, seperti Sumatera Barat dan Lampung. Tentu kita sudah sangat familiar dengan beras merk Belido, Rambutan, King dll. Kesemuanya itu berasal dari propinsi tetangga, demikian juga dengan sayuran berupa kentang, tomat, kol dan cabe, sebagian besar didatangkan dari Sumatera Barat.
Pada sisi lain, kebijakan pemerintah hanya memproiritaskan target pencapaian ketahanan pangan nasional, dimana maksundya adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau (UU No. 68 Tahun 2002 Tentang Ketahanan Pangan). Definisi ini diartikan bawha sepanjang masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangannya tidak musti dengan memproduksinya sendiri, atau darimanapun bahan pangan itu didatangkan, maka masyarakat tersebut sudah dikategorikan level ketahanan pangan. Nah jika ini acuannya, maka upaya pemerintah daerah selama ini dalam mengatur ketersediaan bahan pangan dengan cara memasok dari daerah lain sudah tepat. Dan tidak menjadi persoalan jika pemerintah daerah belum berupaya optimal untuk mengenjot produksi pertanian lokal agar mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Jambi.
Kita boleh saja lega karena selama ini kebutuhan konsumsi pangan masih dapat terpenuhi, meski dengan harga tinggi, sebagian konsumen mengatakan ”masih mending barang yang mau dibeli ada, kalaupun tak bisa beli banyak secukupnya saja jadilah, dari pada barang yang mau dibeli tidak ada”. Inilah yang selalu dimanfaatkan para spekulan, dan petani sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari meroketnya harga kebutuhan pokok tersebut (Jambi Ekspres 8 Juli 2010). Artinya masyarakat masih bisa bertahan dan bersabar dengan kondisi seperti saat ini, akan tetapi siapa yang bisa menjamin krisis pangan atau krisis produksi pertanian tidak kan terjadi pada daerah-daerah lain yang selama ini diandalkan untuk memasok kebutuhan pangan masyarakat Jambi. siapa yang bisa pastikan bahwa tidak akan terjadi bencana misalkan gempa atau banjir yang tiba-tiba memutuskan jalur transportasi sehingga menghambat masuknya pasokan bahan pangan? Tentu kemungkinan-kemungkinan ini harus segera diantisipasi sedini mungkin, saatnya pemerintah dan masyarakat berfikir dan bertindak bijak untuk bersama mewujudkan kemandirian pangan lokal, dimana produksi pertanian lokal mampu menjamin terpenuhinya konsumsi kebutuhan pangan masyarakat, baik dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesuai dengan keragaman lokal. Ya memang bukan hal mudah untuk mewujudkannya, akan tetapi kita tidak akan beranjak dari persoalan yang ada, bahkan akan terancam krisis dan rentan pangan jika tidak segara mengupayakan perbaikan sistem pengembangan pertanian. Dengan mentargetkan kemandirian pangan di Propinsi Jambi harapannya mampu menciptkan inovasi dan kreavitas dalam mengatasi persoalan-persoalan pertanian seperti : tidak maksimalnya sistem perairan sawah, bibit unggul yang tidak mampu beradabtasi dengan anomali cuaca, banjir dan kemarau, rendahnya daya jual bagi produksi pertanian lokal dll. Jika serangkaian persoalan tesebut dapat teratasi maka produksi pertani lokal meningkat dan pasar tersedia, dengan demikian akan secara otomatis memotivasi petani untuk mempertahankan dan mengembangkan lahan pertaniannya. Dengan ini diharapkan kita mampu terhindar dari ancaman kerentanan pangan sebagaimana yang dirpediksikan. (Kompas, 19 Juli 2010).
Nurbaya Zulhakim
Devisi Pendidikan Publik dan Lobby Kebijakan – Yayasan SETARA
baya@setarajambi.org