Monday, 15 Feb 2010
Petani kelapa sawit mandiri adalah rantai yang diletakkan paling bawah, padahal keberadaannya tak bisa diremehkan. Didunia, CPO dari petani sawit mandiri juga turut diperdagangkan bersama dengan produk dari perusahaa-perusahaan besar dan produk dari petani plasma. Di propinsi Jambi misalnya, petani mandiri menguasai hampir 27% dari total luas perkebunan kelapa sawit sawit yang mencapai 480.000 Ha ditahun 2009.
Sertifikasi RSPO dan petani mandiri
Forum RSPO adalah forum international yang dibangun atas dasar kepentingan pasar untuk tidak menyerap minyak sawit yang diproduksi secara tidak berkelanjutan, dan atas dasar mendorong dan mempromosikan penggunaan minyak sawit yang dihasilkan dari aktifitas yang berkelanjutan baik secara lingkungan, social dan economi. RSPO telah melalui 7 kali putaran diskusi, dan pada putaran ke 6 forum ini akhirnya telah menyelesaikan mandate pentingnya yaitu membangun P&C RSPO generic yang nantinya akan menjadi acuan bagi pembentukan P&C untuk perusahaan, petani skema dan petani mandiri atau swadaya.
Banyak pihak menyatakan bahwa sertifikasi RSPO adalah sertifikasi yang memiliki standar tinggi, sehingga banyak pihak mengeluh, terutama anggota RSPO yang tentu memiliki kewajiban tidak hanya mempromosikan minyak sawit berkelanjutan, tapi juga turut mendorong produksi minyak sawit dari aktifitas yang lestari secara lingkungan dan sosial. Inilah yang menyebabkan masih minimnya minat para pegiat minyak sawit untuk memperoleh sertifikat RSPO. Bagaimana pula dengan petani mandiri? Petani mandiri adalah petani yang mengusahakan kebun sejak dari proses pembibitan, perawatan hingga pemanenan dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan dari pihak lain, baik dari perusahaan dan bahkan dari pihak pemerintah. Jika dibandingkan dengan perusahaan, tentu tak heran jika sertifikasi RSPO untuk petani mandiri pun dianggap hanya mimpi belaka. Namun tak ada yang tak mungkin, sangat tidak mustahil jika petani mandiri yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan bisa menjadi salah satu pihak yang ikut andil dalam mempromosikan minyak sawit berkelanjutan. INA-SWG yang diberi mandat untuk merumuskan interpretasi nasional P&C RSPO beberapa waktu lalu telah mengumumkan draft I P&C RSPO untuk petani mandiri. Tak ingin terlambat, beberapa petani mandiri dari 5 kabupaten di propinsi Jambi dengan asistensi dari Yayasan SETARA Jambi dan berkerja sama dengan INA-SWG dan Dinas Perkebunan Propinsi Jambi, memulai melakukan konsultasi atas draft tersebut pada tgl 25-26 Januari 2010 lalu.
Konsultasi atas draft P&C tersebut dimaksudkan agar P&C yang diperuntukkan bagi petani mandiri tidaklah menjadi penghalang bagi petani mandiri untuk terlibat sebagai pihak yang turut mempromosikan minyak sawit berkelanjutan, tentu dengan semua karakteristik petani saat ini. Pada konsultasi publik tersebut yang juga dihadiri oleh ketua INA-SWG, benyak sekali mendapatkan input, tapi yang terpenting adalah adanya komitment para pihak terutama pemerintah propinsi dan kabupaten di propinsi Jambi untuk terlibat dalam mendorong minyak sawit berkelanjutan melalui pemberdayaan petani mandiri dan pembukaan akses informasi dan akses modal. Karena masalah mendasar di petani mandiri adalah akses, dan kelembagaan. Banyak pihak optimis terutama petani mandiri, bahwa mereka bisa jadi pihak terdepan dalam mempromosikan minyak sawit berkelanjutan, jika akses dan kelembagaan telah dijawab. Karena menurut petani mandiri P&C RSPO adalah sertifikasi agar petani mandiri menjadi lebih sejahtera dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan.
