SETARA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1431 H

Wednesday, 12 Aug 2009

Usaha mendorong minyak sawit berkelanjutan

  1. RSPO; mendorong sustainable palm oil tidak sekedar membangun imej

Sejak tahun 2005 hingga sekarang, Yayasan SETARA sangat intens dalam melakukan diskusi dan juga pertemuan dengan pihak pemerintah propinsi. Dari sosialisasi tentang inisiatif global tentang RSPO dan kepentingan daerah untuk mendorong minyak sawit berkelanjutan sebagai usaha untuk memperbaiki iklim investasi dan juga perbaikan lingkungan serta kesejahteraan petani. Dengan bantuan dari berbagai pihak, terutama Sawit Watch dan juga beberapa donor seperti Hivos, Doen Foundation, pada awal tahun 2009, pihak pemerintah dalam hal ini Gubernur propinsi Jambi mengeluarkan surat himbauan kepada seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di propinsi Jambi untuk menerapkan UUD perkebunan dan juga menerapkan Prinsip dan Kriteria RSPO dalam aktifitasnya, karena prinsip dan criteria tersebut adalah cara untuk mendorong perbaikan lingkungan, social dan juga ekonomi untuk terus berkelanjutan. Surat himbauan tersebut keluar pada tgl 14 April 2009 lalu.

2. Petani mandiri; ketika sikecil jadi promotor minyak sawit berkelanjutan

Tak hanya pemerintah yang diajak diskusi tentang minyak sawit berkelanjutan, SETARA juga melakukan diskusi intensif dengan masyarakat terutama pihak-pihak yang tekait lansung minyak sawit, seperti petani sawit (plasma dan petani mandiri).

Forum RSPo adalah inisiatif pada pebisnis minyak sawit, dari pendukung dana, hingga retailer maupun growers, maka tentu banyak mengakomodasi kepentingan para pihak tersebut, tak heran jika kemudian prinsip dan criteria bagi perusahaan perkebunan dan juga termasuk didalamnya petani plasma telah lebih dahulu disetujui, sementara untuk petani mandiri atau petani non skema belum punya acuan. Memang banyak pihak yang skeptis atas sertifikasi produk bagi petani mandiri atau non skema, karena selama ini petani mandiri dianggap tidak akan mampu melakukan dan mengimplementasikan P&C untuk mendapakan sertifikat RSPO. Dari persoalan kelembagaan, data base, GAP petani mandiri saja, sudah jadi persoalan yang mendasar dalam syarat sertifikasi RSPO.

Tapi akankah persoalan tersebut dikutuki tanpa dicoba untuk dilakukan perbaikan?

SETARA dengan dukungan Hivos dan juga bantuan dari temen-temen Aliansi Organis Indonesia, mencoba menjawab beberapa persoalan tersebut. Awalnya, memang tidak khusus dilakukan agar petani mandiri dapat sertifikat RSPO, tapi dilakukan agar petani mandiri bisa meningkatkan kesejahteraan mereka dengan mendorong peningkatan kualitas produksi kebun mereka, dengan menerapkan Good Agriculture Practice. Karena dengan menerapkan GAP, tidak hanya kualitas menjadi lebih baik, tapi juga lingkungan akan lebih mendapat perhatian. Dan dari sanalah minyak sawit berkelanjutan dimulai.

Saat ini SETARA bersama kelompok petani mandiri dengan jumlah anggota sekitar 200 petani mencoba ingin membuktikan bahw petani mandiri juga bisa melakukan perbaikan-perbaikan, dan bisa jadi salah satu promotor bagi minyak sawit berkelanjutan. Dan lebih penting lagi adalah jika petani mandiri bisa mendorong minyak sawit berkelanjutan, maka apa lagi bagi perusahaan skala besar yang tentu memiliki kapasitas yang baik, tentu lebih memiliki peluang untuk juga turut mempromosikan minyak sawit berkelanjutan.

3. Berhasil melunakkan perusahaan yang sudah 20 tahun terus menyiksa Suku Anak Dalam

Salah satu keberhasilan Yayasan SETARA dengan dukungan dari banyak pihak, seperti NGO lokal (YLBHL, AMPHAL) adalah berhasil mendorong salah satu anak perusahaan PT Asiatik Persada yang kini dikelola oleh Wilmar group untuk bernegoisasi dengan masyarakat. Padahal perusahaan ini adalah termasuk perusahaan yang tidak mengenal negoisasi, karena selama ini mereka kerap melakukan tekanan-tekanan terhadap masyarakat seperti pengusiran SAD dari kampung dan ladang mereka. Tapi ketika Wilmar mengambil alih perusahaan ini ditahun 2006, seketika juga berubah. Ini terbukti ketika SAD menyampaikan keluhan kepad managemen Wilmar di Singapura, dalam waktu yang tidak lama surat tersebut mendapat tanggapan baik, dimana mereka kemudian membangun komitmen dengan SAD untuk membuka ruang komunikasi menuju penyelesaian konflik.

Bukan hanya pemukiman dan ladang masyarakat yang digusur, tapi pemakaman nenek moyang SAD juga tak luput dari terjangan buldozer milik perusahaan. Tapi lagi-lagi Wilmar menunjukkan komitmennya untuk segera mengakhiri konflik yang sudah 20 tahun berlansung ini. Dengan menebang sekitar 11 pohon sawit pada tgl 30 Juli 2009 diwilayah pemakaman Muaro Temidai, yang berada tepat diatas pemakaman nenek moyang SAD. Memang penebangan pohon sawit tidaklah bisa membayar seluruh dosa yang dilakukan oleh perusahaan selama ini, tapi paling tidak bisa memberikan bukti bahwa ada keseriusan dari pihak perusahaan. Tak hanya menebang sawuit, tapi juga pihak perusahaan membuka akses bagi SAD untuk berziarah, dan memberi izin untuk merawat beberapa pekuburan didalam HGU.

Perjuangan SAD memang belum selesai, karena masih ada beberapa tuntutan yang belum diselesaikan, yaitu:

    1. rehabilitasi pemakaman tua milik SAD (sudah dilakukan oleh perusahaan)
    2. pihak perusahaan segera melakukan enclave atas pemukiman dan kebun-kebun karet tua milik warga yang masih bertahan didalam HGU.
    3. mengembalikan lahan milik warga SAD.

Tapi banyak harapan digantungkan pada pemilik baru perusahaan ini, bahwa dimasa yang akan datang akan terbangun hubungan yang harmonis antara pihak perusahaan dan juga warga SAD.


Leave a Reply

Spam protection by WP Captcha-Free