SETARA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1431 H

Tuesday, 21 Jul 2009

Harga Sawit Membaik tapi Produksi Sawit Turun Drastis; Petani Semakin Tidak Mampu Membeli Pupuk.

 

‘Sawit adalah tanaman andalan’- Demikianlah sebutan atau tepatnya jargon yang diberikan oleh Pemerintah Jambi terhadap tanaman komodity ekspor terbesar ini. kenapa demikian? Karena pengalaman yang telah dirintis sejak tahun 1990 lalu telah membuktikan bahwa program pengembangan perkebunan kelapa sawit telah berhasil menciptakan pembangunan infra struktur pedesaan dan peningkatan kesejateraan petani, terutama bagi masyarakat transmigran yang tersebar di hampir semua kabupaten yang ada di propinsi Jambi. Tanaman kelapa sawit mampu merubah keadaan ekonomi petani biasa menjadi masyarakat berkelas yang mampu membeli kendaraan mewah dan membangun rumah megah. Pemandangan indah ini cukup membius sebagian besar masyarakat luas, hal ini ditandai dengan selalu tersedianya lahan masyarakat untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit, baik untuk diusahakan secara mandiri/ swadaya ataupun untuk diusahakan dengan cara terlibat skema kerja sama dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit/mitra, tanpa melihat sisi lain yakni konflik sosial dan kerusakan lingkungan yang turut serta menyertai laju perkembangannya.

 

Turunnya harga TBS/Tandan Buah Segar dari Rp. 2000/Kg menjadi Rp. 800 hingga Rp. 500/Kg pada Agustus tahun lalu sebagai dampak langsung krisis global cukup membuat petani sawit mengalami shok bahkan depresi. Akan tetapi kondisi ini tidak menyurutkan langkah pihak-pihak terkait seperti petani, pengusaha dan pemerintah untuk terus menambah luas perkebunan kelapa sawit, dan ironisnya perluasan ini belum disertai dengan sistem perangkat pendukung penting seperti kepastian ketersediaan bibit bersertifikat, pupuk dan bahan kimia/pestisida pengusir hama. Kenyataan ini menjadi tantangan terbesar yang dialami petani kelapa sawit baik petani mitra ataupun petani swadaya.

 

Sejak dua tahun terakhir petani kelapa sawit sangat kesulitan untuk mendapatkan pupuk, kalaupun tersedia harganya pun sangat mahal, informasi yang mereka dapat tentang adanya pupuk bersubsidi hanyalah sebuah cerita manis yang pernah dirasakan pada lima tahun lalu, itupun hanya berlaku bagi petani plasma/mitra saja. Kondisi ini diperparah dengan adanya krisis global, harga TBS turun drastis, pupuk mahal dan susah didapat. Dalam kondisi seperti ini tak ada pilihan bagi petani kelapa sawit kecuali menambah hutang untuk membeli pupuk atau membiarkan kebunnya tumbuh tanpa pupuk. Karena satu kapling kebun kelapa sawit membutuhkan 500 Kg Urea, 250 Kg TSP dan 250 Kg KCL dengan total biaya yang butuhkan minimal Rp. 2.595.000 untuk satu kali pemupukan (sebaiknya satu kali/enam bulan).

 

 Mekanisme penebusan pupuk urea bersubsidi, seharusnya mekanisme ini mampu menjawab persaoalan kelangkaan pupuk.

 Membaiknya harga TBS dari harga Rp.800/Kg menjadi Rp. 1.100/Kg saat ini, selaiknya memberikan harapan baik bagi petani, tapi harapan ini menjadi sia-sia karena buah mengalami trek/penurunan produksi yang diakibatkan oleh pergantian musim yang biasanya terjadi satu kali dalam satu tahun. Naiknya harga TBS saat ini menjadi Rp.1100 /Kg tidak memberi pengaruh baik terhadap jumlah pendapatan petani kelapa sawit karena produksi buah pun turun sangat drastis, jika produksi TBS petani sebelumnya rata-rata mencapai 1-3 Ton/kapling/panen, akan tetapi saat ini hanya mencapai 4-7 kwintal /kapling/panen. Di samping karena musim trek kondisi rendahnya produksi TBS secara drastis ini juga diakibatkan karena tidak dilakukannya pemupukan kebun dalam enam bulan terakhir dan petani memperkirakan bahwa puncak trek akan terjadi pada bulan Juli mendatang. Situasi ini notabene semakin mempersulit posisi petani untuk mengupayakan pemupukan kebun pada saat ini, hal yang paling bisa dilakukan adalah membeli pupuk poska yang harganya sedikit lebih ekonomis meski tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan tanaman kelapa sawit. Pada sitausi ini petani kesulitan akan mengeluhkan kemana persoalan yang sudah cukup klasik ini, mereka hanya bisa berkeluh kesah pada sesama petani ‘siapa sebenarnya yang harus bertanggung-jawab terhadap kelangkaan pupuk’? dan adakah perusahaan yang bersedia membeli dan memaklumi rendahnya kualitas dan kuantitas TBS kebun mereka akibat kesulitan menembus pupuk?

Nurbaya Zulhakim,

Div. Pendidikan Publik SETARA

(NGO yang bekerja pada issu perkebunan kelapa sawit).


2 Responses to “Harga Sawit Membaik tapi Produksi Sawit Turun Drastis; Petani Semakin Tidak Mampu Membeli Pupuk.”

  1. HECTOR Says:


    PillSpot.org. Canadian Health&Care.No prescription online pharmacy.Special Internet Prices.Best quality drugs. Online Pharmacy. Buy drugs online

    Buy:Prevacid.Lumigan.Mega Hoodia.Arimidex.100% Pure Okinawan Coral Calcium.Nexium.Accutane.Human Growth Hormone.Actos.Retin-A.Prednisolone.Petcam (Metacam) Oral Suspension.Valtrex.Zyban.Synthroid.Zovirax….

  2. Fisheye Says:

    Fisheye http://rf3stbuzw.ACEHARDWAREE.INFO/tag/Fisheye+D80+Lens/ : Lens…

    Fisheye…

Leave a Reply

Spam protection by WP Captcha-Free