SETARA MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1431 H
  • Google
    Google ad goes here
  • Find
  • September 2010
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Categories
  • Meta
  • Locations of visitors to this page
  • Anda pengunjung ke :
Lembar Informasi

Posted on Wednesday 29 October 2008

Ketika Kelapa Sawit Menjadi Primadona

Sejak tahun 2000-an kelapa sawit menjadi komoditas yang terus berkilau, kebutuhan pasar di Eropa yang terus meningkat dari tahun ketahun tak hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dan kosmetik tapi minyak sawit mampu menggantikan minyak bumi sebagai bahan bakar alternatif. Kondisi ini kemudian menjadi pemantik bagi terus meluasnya perkebunan kelapa sawit. hingga tahun 2007 luas perkebunan kelapa sawit mencapai 7,4 juta ton dan terus akan meningkat, akibat rencana pemerintah untuk menambah areal perkebunan kelapa sawit hingga mencapai 24 juta hektar di tahun 2010. Di Indonesia, hampir seluruh propinsi meletakkan sektor kelapa sawit menjadi sumber pendapatan daerah, tak heran jika seluruh propinsi mencanangkan pembangunan perkebunan kelapa sawit dalam program pembangunan didaerahnya, termasuk propinsi Jambi.

Hukum pasar pun berlaku, dimana ketika kebutuhan meningkat maka akan menaikkan harga. Ini juga terjadi bagi kelapa sawit, sejak tahun 2006 hingga pertengahan 2008, petani kelapa sawit menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan naiknya harga bahan baku. Betapa tidak harga yang semula hanya berkisar Rp 600-700/Kg, di awal tahun 2008 harga Tandan Buah Segar (Fresh Fruit Brunch) ditingkat petani kelapa sawit tembus pada level Rp 2.000/Kg, kenaikan harga kelapa sawit mencapai 250 persen! Walau sebenarnya keuntungan tersebut harus dibayar dengan turut naiknya harga pupuk.

Melihat kondisi harga Tandan Buah Segar (TBS) yang menjanjikan, tak hanya program pemerintah saja yang berubah haluan untuk terus mempromosikan kelapa sawit sebagai sektor unggulan, pihak perbankan juga demikian, sektor kelapa sawit adalah sektor yang paling diminati untuk didukung dengan pendanaannya1.

Keuntungan yang berlipat ditingkat petani kelapa sawit telah melahirkan budaya konsumtif ditingkat petani. Jika dulu petani kelapa sawit hanya memiliki 1 kavling kebun sawit, karena dianggap menjanjikan, petani pun memperluas kebunnya dengan dukungan dari perbankan, petani yang dulu bertani pangan lokal, kini berubah profesi menjadi petani sawit, petani sawit yang dulu hanya bisa jalan kaki, kini sudah punya sepeda motor, dan bahkan sangat jarang petani kelapa sawit yang tidak membeli kendaraan roda dua. Ini adalah akibat “booming” kelapa sawit. Tapi siapa sangka, jika krisis di Amerika yang dimulai dari kredit macet perumahan dampaknya sampai di indonesia? sampai di propinsi Jambi? Siapa sangka krisis di Amerika itu telah merontokkan harga Tandan Buah Segar (TBS) milik petani di Propinsi Jambi?

(more…)

admin @ 10:39 am
Filed under: Kampanye SETARA
Press Release Yayasan SETARA Jambi Terhadap krisis Amerika dan harga TBS

Posted on Thursday 23 October 2008

………………………………………………

Mari selamatkan petani kelapa sawit di Jambi dari kebangkrutan

Beberapa waktu lalu, naiknya harga CPO dipasar international mendorong naiknya harga TBS dikalangan petani kelapa sawit, hampir satu tahun petani kelapa sawit menikmati indahnya bertani kelapa sawit, tak mengherankan jika kelapa sawit menjadi incaran, tidak hanya petani yang semula bertanam pangan lokal, tapi juga pihak perbankan lebih memberikan kemudahan dalam mengucurkan kredit pada sektor kelapa sawit. Perusahaan perusahaan lokal dan international ramai-ramai berburu lahan untuk ditanami kelapa sawit. Di propinsi Jambi luas perkebunan bertambah sekitar 50.000 Ha dalam setahun. Sungguh pantastis! Padahal pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan luas perkebunan kelapa sawit di propinsi Jambi merambat pelan.

Naiknya harga CPO dipasar dunia, akibat permintaan akan CPO yang tinggi bagi pemenuhan bahan pangan, kosmetik hingga bahan baku Biofuel (Bahan bakar pengganti minyak bumi) telah mendorong pengusaha-pengusaha menjual CPOnya dipasar dunia, ketimbang menjualnya dalam negeri dalam bentuk minyak goreng yang kemudian tidak hanya berakibat pada tingginya harga minyak goreng dalam negeri tapi juga membuat minyak goreng menjadi langka. Lalu karena kelangkaan dan harga yang tinggi, masyarakat miskin lebih memiliki mengkosumsi minyak jelantah sebagai penganti minyak goreng.

Tak ada yang menyangka bahwa keindahan itu hanya sesaat, bahwa kenikmatan itu hanya semalam, ketika badai tsunami krisis Amerika menghantam hingga kepelosok desa dan meremukkan keuangan petani kelapa sawit di propinsi Jambi. Krisis keuangan di Amerika telah merontokkan harga TBS dari kisaran Rp 1.900/kg menjadi hanya Rp 200-500/kg. Kondisi ini membuat petani kelapa sawit menjerit, Bagaimana tidak, harga penentuan dari pemerintah tidak pernah menjadi acuan bagi perusahaan untuk membeli prouduk TBS dari petani, sehingga kondisi buruk ini diperparah dengan kelakuan para perusahaan. Dibeberapa wilayah misalnya, ada perusahaan yang membeli TBS petani sawit dengan harga berkisar Rp 200-250/kg. Bayangkan berapa kerugian yang harus diterima oleh petani dengan harga tersebut, sementara input dalam mengelola perkebunan seperti pupuk, biaya mendodos, biaya perawatan yang tinggi. Dalam banyak kasus petani kelapa sawit malah harus menombok biaya-biaya lainnya yang tidak ikut turun ketika harga TBS turun. (more…)

admin @ 1:50 pm
Filed under: Kampanye SETARA
Diskusi Bersama Tentang Dampak Krisis Ekonomi Global Terhadap Komiditi Perkebunan

Posted on Tuesday 21 October 2008

…………………………………………………

…………………………………………………

LSM CAPPA memfasilitasi Diskusi Bersama Tentang Dampak Krisis Ekonomi Global Terhadap Komoditi Perkebunan dengan babarapa LSM dan ORMAS serta mengundang Narasumber dari LSM SETARA, KADISBUN dan HKTI.

Latar belakang diskusi ini diawalai dengan semakin tajamnya krisis ekonomi global yang dimulai ketika terjadi kredit macet perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat yang merupakan sentrum dari perekonomian dunia. Bila ditelisik, krisis ini bermula sejak AS melakukan aktivitas agresi militer ke Afghanistan dan Irak, di mana semua pendanaan negara terfokus ke perang tersebut. Setelah itu terjadi krisis subprime mortgage yang menimpa sektor perumahan dan menyeret perbankan ke kredit macet dan memaksa FED (Bank sentral AS) untuk menurunkan suku bunga hingga 2 %.. Krisis yang terjadi di awal tahun 2008 tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga mencapai rekor tertingginya di bulan Mei sebesar 147 USD/barel. (more…)

admin @ 10:21 am
Filed under: Aktifitas Kami
Warisan Terakhir

Posted on Thursday 9 October 2008

Kunjungi Video ini

admin @ 10:53 am
Filed under: Film SETARA