Friday, 23 Jul 2010
Dalam beberapa minggu ini, kenaikan harga pangan terus menghiasi pemberitaan dari media local hingga nasional. Banyak pihak menyatakan bahwa kenaikan harga yang terus melangit adalah imbas dari menjelangnya bulan ramadhan. Juga ada yang mempercayai bahwa kenaikan harga pangan akibat rencana pemerintah menaikkan Tarif Dasar Listrik, sehingga berdampak pada semakin tingginya nilai produksi yang harus dikeluarkan oleh petani. Tapi tak juga sedikit yang meyakini bahwa perubahan iklim lah biangnya. Karena perubahan iklimlah yang telah membuat areal-areal sawah mengalami kekeringan dan diserang oleh hama (sekitar 25.583 Ha sawah di Jawa Barat gagal panen/Kompas, 16 Juli 2010).Karena perubahan iklim jualah yang mendorong pemerintah membangun kebun-kebun sawit untuk memproduksi bahan baku bahan bakar nabati (Biodiesel) yang dianggap sebagai bahan bakar yang mampu membersihkan iklim, dan tak sedikit kebun sawit ditanam diareal pertanian pangan, dan tak sedikit petani pangan yang kini berganti propesi menjadi petani sawit. Apapun sebabnya, bulan Ramadhan, rencana kenaikan TDL dan perubahan iklim, yang jelas kebijakan pemerintah tentang arah pembangunan pertanian yang lebih dititik beratkan pada visi ketahanan pangan, bukan kedaulatan dan kemandiri pangan, semakin menunjukkan bahwa krisis pangan mengancam kita.

